Dosen FEB UI: Tidak Ada Pelatihan Koperasi di Negara-Negara Lain yang Bobot Militerismenya Semasif Ini

Dosen FEB UI, Dewi Meisari Haryanti, dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (09/07/2026). Foto: Wahyu Suryana
Dosen FEB UI, Dewi Meisari Haryanti, dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (09/07/2026). Foto: Wahyu Suryana

Dosen FEB UI, Dewi Meisari Haryanti, mengkritisi latihan dasar militer (latsarmil) yang diberikan ke calon-calon manajer Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Apalagi, pemerintah belum pernah membagikan kurikulum lengkap pelatihan tersebut.

“Saya tidak pernah lihat itu. Tapi, dari pengalaman saya mempelajari negara-negara lain itu tidak ada kurikulum yang semasif ini bobot militerismenya,” kata Dewi kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (09/07/2026).

Ia menilai, kondisi itu membuat relevansi latsarmil yang diberikan ke calon-calon manajer KDKMP sangat perlu dipertanyakan. Terlebih, best practice dari negara-negara lain yang koperasinya berhasil seperti Korea Selatan tidak melakukan itu.

“Pelatihan koperasi-koperasi pertanian kurikulumnya vokasional seputar pertanian. Habis itu, institutional model bisnis organisasi koperasi, model bisnis pertanian itu sendiri. Jadi, vokasional pertanian, tata lembaga, tata kelola, model institusi bisnis biar dia mengerti proses pengambilan keputusan, peran pengurus,” ujar Dewi.

Kemudian, ia menekankan, pelatihan turut diberikan dengan materi bisnis model dari tempat koperasi-koperasai tersebut nantinya berlokasi. Karenanya, Dewi cukup kaget melihat pelatihan calon-calon manajer KDKMP yang malah banyak berisi latsarmil.

Dewi sendiri sudah berpengalaman mempelajari secara langsung koperasi-koperasi yang ada di Eropa seperti Inggris dan Swiss. Di sana, ia menyampaikan, tidak pernah ada materi pelatihan seperti cara memegang dan menembak senjata seperti di Indonesia.

“Saya wallahualam bissawab, tidak mengerti saya, tidak tahu saya, positif thinking mungkin terus itu dibandingkan ke Somalia, itu bagian saya mempertanyakan. Kalau misalnya bener ke sana itu saya mempertanyakan itu kenapa memilihnya ke sana gitu,” kata Dewi.

Selain itu, Dewi mempertanyakan budget Rp 45 juta per orang untuk mengikuti agenda latsarmil tersebut. Terlebih, ia menekankan, beberapa waktu terakhir pelatihan yang diberikan kepada masyarakat sipil itu sudah memakan lima peserta meninggal dunia.

Dewi turut menyampaikan kekecewaan atas sikap dari Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman, ketika menyampaikan berita duka tersebut. Ia berpendapat, sikap itu tidak menunjukkan empati setidaknya kepada keluarga korban yang ditinggalkan.

“Bahkan, saat meninggal juga, sayangnya respons dari Kepala KSP, saya termasuk yang sangat kecewa karena tidak menunjukkan empati ya, seharusnya kan satu jiwa orang itu sama pentingnya ya, kalau dicengengesin begitu rasanya kok kayak,” ujar Dewi. (WS05)