Guru Besar Hukum Hak Asasi Manusia UII, Prof Suparman Marzuki, mengkritisi pejabat-pejabat di Indonesia yang semakin sering asal bunyi atau asbun. Padahal, Suparman menegaskan, mereka itu sudah disumpah untuk menyandang jabatan publik.
Artinya, ia menerangkan, jabatan publiknya itu harus dipertanggung jawabkan yang disebut dengan public accountability, pertanggung jawaban publik. Namun, Suparman menilai, jika pejabat publiknya sering asal bicara, dampaknya bisa sangat besar.
“Satu, bisa justru tidak menyelesaikan persoalan, tapi memperdalam masalah. Kedua, meluaskan masalah. Ketiga, menjadi bulan-bulanan. Keempat, menimbulkan distrust, ketidakpercayaan publik kepada pemerintah,” kata Suparman kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam Kelas Malam di YouTube Terus Terang Media, Minggu (26/06/2026).
Padahal, ia mengingatkan, kepercayaan merupakan modal sosial bagi pejabat-pejabat yang bersangkutan, dan secara luas bagi negara bangsa kita. Apalagi, rakyat kita saat ini sudah susah, seharusnya tidak ditambah susah dengan pejabat-pejabat asbun.
“Jadi, jangan dibikin susah dengan statement-statement yang bikin susah itu. Bicaralah yang terukur, sehingga tidak menimbulkan keresahan. karena itu paling tidak statement-statement yang keliru itu bisa menimbulkan kemarahan kolektif,” ujar Suparman.
Ia melihat, aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa di berbagai provinsi merupakan salah satu dampak kekecewaan atau kemarahan, bahkan kemuakkan. Karenanya, mereka menyuarakan tuntutan-tuntutan atas tindakan pemerintah yang tidak tepat.
Seperti membunyikan klakson menolak MBG, Suparman menyampaikan, di Filipina rakyat membunyikan klakson untuk menyatakan Ferdinand Marcos diganti. Ia berpendapat, itu semua sebenarnya sama-sama merupakan akumulasi ketidakpercayaan kolektif publik.
“Jadi, jangan dianggap enteng Bapak Menteri, Bapak Presiden yang saya hormati, pernyataan-pernyataan bapak-bapak itu jangan lagi asal bunyi lah, baru setengah tahun pegang kekuasaan, masih tiga setengah tahun. Berhentilah bikin pernyataan-pernyataan tidak bermutu, pernyataan-pernyataan yang asal bunyi,” kata Suparman.
Suparman mencontohkan, Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, kerap membuat pernyataan-pernyataan yang berakhir kontroversi. Padahal, ia mengingatkan, dia merupakan seorang guru besar, dosen, bahkan menyandang embel-embel ulama besar.
“Seharusnya yang ke luar dari statement-statement beliau itu menyejukkan sebagai ungkapan seorang intelektual, seorang ulama. Jangan tersinggung, Bapak Menteri, ini kita mengingatkan agar tidak semakin jauh,” ujar Suparman. (WS05)
