Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, mengucapkan selamat atas HUT Bhayangkara ke-80 pada 1 Juli 2026. Ia mengatakan, Polri adalah salah satu instrumen konstitusional negara untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.
“Oleh sebab itu, seburuk apapun kinerja Polri pada satu penggalan waktu, misalnya sekarang, atau tahun kemarin, atau tahun depan, pilihan kita bukan menghancurkan Polri. Tapi, harus menguatkannya agar terus hadir secara profesional dengan watak dan wajah Tribrata Polri,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (30/06/2026).
Ia mengingatkan, tribrata merupakan tiga sumpah, bakti kepada nusa dan bangsa, bakti kepada kemanusiaan, dan bakti kepada keadilan dan peradaban. Ke depan, Mahfud berharap, tiga sumpah itu yang lebih banyak ditampilkan oleh seluruh elemen Polri.
“Yang kemarin yang jelek dibuang, yang baik ditingkatkan lagi. Selamat Hari Bayangkara Polri ke-80, tanggal 1 Juli 2026,” ujar Mahfud.
Pada kesempatan lain, Mahfud yang sempat jadi Anggota Komisi Percepatan Reformasi Polri menyampaikan, hari ini Indonesia memang berada dalam proses memperbaiki Polri. Ia menegaskan, Polri hanya memiliki 2 pilihan, berubah atau berantakan.
“Ini saatnya polisi ini dihadapkan pada pilihan, mau berubah atau tidak? Kalau tidak mau berubah ya akan lewat, semuanya akan berantakan lagi, bukan hanya polisinya, ketatanegaraan kita juga akan berantakan lagi kalau polisi tidak mau berubah,” kata Mahfud dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (29/11/2025).
Pasalnya, lanjut Mahfud, sekarang sorotan publik terhadap polisi sedang luar biasa. Tapi, publik yang semakin banyak mengungkap beragam keburukan polisi, sekaligus dihadapkan dengan harapan melalui dibentuknya Komisi Percepatan Reformasi Polri.
“Saya keliling, didatangi banyak orang, ternyata banyak sekali polisi itu pintar-pintar dan bagus, pintar-pintar dan bagus. Cuma itu, sering tadi tidak berani bilang ke atasan karena kan ini menurut kesan saya, hubungan komandonya tuh keras. Lalu, di samping ada sumpah berani melawan atasan kalau salah, ada juga sumpah lain, Satya Prabu, kira-kira ini diperlawankan, disalahtafsirkan,” ujar Mahfud.
Maka itu, Mahfud menyampaikan, publik hari ini banyak menitipkan harapan kepada Komisi Percepatan Reformasi Polri. Mahfud sendiri meyakini, ada jalan yang masih terbuka untuk benar-benar mewujudkan dan menerapkan reformasi terhadap Polri.
Bagi Mahfud, salah satunya dengan menanamkan kembali doktrin-doktrin lama yang sebenarnya sudah sangat bagus dan masih ada dalam Polri. Sehingga, seorang polisi benar-benar mengabdi kepada negara, mengabdi kepada rakyat, bukan kepada atasan.
“Melalui doktrin-doktrin lama, doktrin polisi itu kan sudah bagus, Tribrata, Catur Prasetya, ternyata ada itu juga kode etik, tapi disalahartikan,” kata Mahfud. (WS05)
