Guru Besar UII Terangkan Prototipe Integritas Bernama Artidjo, Busyro, dan Mahfud

Guru Besar Hukum Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (UII), Prof Suparman Marzuki, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (23/05/2026). Foto: Wahyu Suryana
Guru Besar Hukum Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (UII), Prof Suparman Marzuki, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (23/05/2026). Foto: Wahyu Suryana

Guru Besar Hukum Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (UII), Prof Suparman Marzuki, mengungkapkan sosok-sosok yang jadi inspirasinya dalam menjaga integritas. Ternyata, ada nama seperti (alm) Artidjo Alkostar, Busyro Muqoddas, dan Mahfud MD.

“Pak Mahfud ini beliau ini tanpa disadari salah satu mentor saya yang selalu saya potret dari kejauhan dan dari dekat. Pak Artidjo, Pak Busyro, Pak Mahfud itu di Fakultas Hukum tiga figur itu prototipe saya,” kata Suparman kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (23/05/2026).

Hal itu disampaikan menjawab pesan Mahfud MD di buku ‘Di Balik Toga Sahabat’ yang menitipkan almamater ke Suparman. Buku dikeluarkan saat Pidato Pengukuhan Profesor yang berlangsung di Auditorium Abdulkahar Muzakkir UII pada Selasa (19/05/2026).

Kebetulan, 3 sosok yang disebut Suparman berasal dari almamater yang sama, yaitu UII. Dari mantan hakim agung, mantan pimpinan KPK, dan mantan Ketua MK itulah Suparman mengaku mendapatkan kekuatan yang mampu menguatkannya menjaga integritas.

“Tapi, ketiga-tiganya punya kekuatan yang saling menyatu dan itu yang selalu saya adopsi dalam perjalanan hidup saya. Tapi, poinnya satu, integritas. Jadi, pesan Pak Mahfud itu buat saya itu amanah besar karena secara formal beliau pun mengamanahkan saya dari posisi beliau sebagai Pembina Yayasan YBW UII. Secara substansi, sebagai senior saya, sebagai sesama alumni, itu beban yang harus saya ampu,” ujar Suparman.

Terungkap pula cerita kalau Suparman, sebelum menjadi Ketua Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII, awalnya selalu menolak dan menghindar. Namun, Suparman menyebut, jika sudah 3 orang itu yang meminta, tidak ada lagi alasan baginya untuk bisa menolak.

“Jadi, saya bilang kalau sudah orang-orang ini bicara, saya tidak bisa menghilang. Kalau sudah Pak Artidjo, Pak Busyro, beliau ini kalau sudah ketuk, saya sudah mati angin, itu fatwa sudah, buat saya itu selesai sudah, ini mesti saya pegang amanah ini. Bagi saya sekarang, ini merupakan beban yang cukup penting yang harus saya jalankan,” kata Suparman yang merupakan Ketua Komisi Yudisial (KY) 2013-2015 itu.

Pada kesempatan itu, Mahfud turut menjelaskan soal integritas yang sebenarnya sudah diwariskan oleh pendiri-pendiri UII. Antara lain, Mohammad Hatta, yang dulu harus naik kereta setiap bulan dari Jakarta ke Yogyakarta hanya untuk mengajar di UII.

Bagi Mahfud, itu semua merupakan integritas yang diwariskan dari waktu ke waktu. Terutama, oleh sosok Abdulkahar Muzakkir yang saat itu sudah jadi seorang pejabat penting di Jakarta, tapi lebih memilih pulang ke Yogyakarta untuk membesarkan UII.

“Dia pulang ke Yogya hanya ingin merawat UII dulu sampai jadi kampus. Dari STI, Sekolah Tinggi Islam menjadi Universitas Islam Indonesia sampai jadi. Di tahun 70-an Pak Kahar baru istirahat. Pak Parman baru buat museum kediamannya di Kota Gede,” ujar Mahfud.

Integritas itu ternyata tercermin dalam gaya hidup sosok-sosok tersebut. Menurut Mahfud, Artidjo sebagai pewaris idealisme itu turut memberikan contoh gaya hidup yang sangat sederhana, masih sangat mudah ditemui mahasiswa saat jadi hakim agung.

Padahal, ia mengingatkan, saat itu Artidjo merupakan sosok yang sangat ditakuti. Menurut Mahfud, rasa hormat yang diberikan orang-orang kepada sosok seperti Artidjo memang bukan semata karena ilmu, tapi lebih karena integritas yang terus terjaga.

“Jadi, bukan soal benar-salah, integritasnya dulu baru kebenaran pasal itu dinilai belakangan dalam hukum. Itu Artidjo sampai meninggalnya orang tetap hormat, salut, sampai pensiun orang sedih semua. Karena apa? Integritasnya, bukan soal ilmunya,” kata Mahfud. (WS05)