Momen Hari Perempuan Internasional, Rieke Kecam Serangan Rudal AS Tewaskan 165 Siswi Iran

Anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka mengecam keras tragedi serangan rudal Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menghujam Sekolah Putri Shajerah Tayyebeh di Minab, Iran, 28 Februari 2026 lalu.

Tragedi tersebut merenggut nyawa 165 orang, mayoritas korbannya siswi berusia 7 hingga 12 tahun serta para guru perempuan.

Bacaan Lainnya

Rieke menilai tragedi ini tamparan keras bagi Peringatan Hari Perempuan Internasional (HPI) 2026 yang jatuh pada Minggu (8/3/2026). Apalagi tema global HPI 2026, “For All Women and Girls”.

Kata Rieke, seruan perlindungan hak perempuan dan anak menjadi tak berarti jika ruang pendidikan yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menjadi sasaran militer.

“Fakta sekolah jadi target rudal menunjukkan kegagalan total sistem perlindungan warga sipil dalam konflik internasional. Saya mengutuk keras. Menjadikan perempuan dan anak sebagai target teror untuk melumpuhkan musuh adalah kejahatan kemanusiaan yang sangat keji,” kecam Rieke dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Minggu (8/3/2026).

Ia menilai, 165 korban jiwa bukan sekadar angka statistik. Serangan tersebut telah memadamkan paksa mimpi anak-anak yang seharusnya tumbuh menjadi pilar peradaban. Mereka adalah anak-anak yang seharusnya belajar dari guru-guru yang gugur di medan pengabdian.

UNESCO, sambung Rieke, telah menegaskan bahwa menyerang fasilitas pendidikan adalah pelanggaran berat hukum humaniter internasional.  Rieke mempertanyakan efektivitas retorika global soal hak perempuan jika agresi militer masih bebas menyasar mereka di zona konflik.

“Untuk perempuan dan anak perempuan mana dunia ini bicara, jika rudal masih bebas membunuh mereka di ruang kelas? Pertanyaannya, di mana tindakan dunia?” tanyanya.

Dia pun mendesak komunitas internasional untuk segera mengambil langkah nyata. Yakni investigasi independen atas dugaan kejahatan perang ini. Selain itu, mendesak penghentian segera keberingasan militer yang menjadikan warga sipil, khususnya perempuan dan anak, sebagai sasaran antara.

Rieke mengajak dunia untuk mendengar gugatan nurani dari tangisan para ibu di Iran.

“Di Hari Perempuan Sedunia ini, saya memilih untuk tidak merayakan. Saya memilih bersuara lantang. Hentikan membunuh masa depan! Hentikan kekerasan terhadap perempuan di zona konflik!” pungkas Rieke. RLS

Temukan kami di Google News.