Kompetisi Memuji yang Disajikan Para Pembantu Presiden Prabowo Tuai Sorotan

Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (09/08/2026). Foto: Wahyu Suryana
Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (09/08/2026). Foto: Wahyu Suryana

Intelektual, Hamid Basyaib, menyampaikan kekhawatiran atas fenomena yang sudah dirasakan paling tidak 1,5 tahun terakhir dari pemerintahan Presiden Prabowo. Terutama, yang dilakukan oleh pejabat-pejabat yang ada di Kabinet Merah Putih.

“Yaitu, terjadi apa yang saya sebut perlombaan pemujaan terhadap Presiden Prabowo dari para pembantunya, dari para menteri dan jajarannya, bukan hanya menteri, dan terkesan terjadi kompetisi di antara mereka,” kata Hamid kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam Perspektif di YouTube Terus Terang Media, Minggu (09/08/2026).

Ia melihat, pejabat-pejabat itu tampak begitu ingin berebut perhatian untuk menjadi pembantu yang paling disayang Presiden Prabowo. Strategi yang banyak disebut oleh anak muda sebagai carmuk atau cari muka ke orang yang mengangkat derajat mereka.

“Sesuatu yang walaupun bukan yang pertama di dalam rezim ini kita punya Presiden begitu, nanti kita lihat juga di Orde Baru, tapi bisa dipastikan juga bahwa dalam periode kepresidenan Pak Prabowo ini intensitasnya tinggi sekali dan luasannya juga luas sekali karena melibatkan begitu banyak menteri,” ujar Hamid.

Ada Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, yang menyebut Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) berasal dari wangsit atau bisikan-bisikan gaib yang diterima Presiden Prabowo. Hamid mengaku heran hal-hal seperti ini masih ada di dunia modern abad 21.

Ada pula Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, yang dalam banyak kesempatan memuji keberanian dan arahan-arahan langsung Presiden Prabowo. Langkah serupa dilakukan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, yang banyak memuji Presiden Prabowo.

“Ini ironinya luar biasa karena di masa Pak Jokowi dulu dia dan partainya waktu itu Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sampai menobatkan Prabowo sebagai tokoh politik terburuk segala macam dan menyebutnya pecundang lah macam-macem dan suatu ejekan yang luar biasa terhadap Pak Prabowo Subianto sebelum dia jadi Presiden. Sekarang, setelah jadi Presiden rupanya dia baru sadar ya Pak Prabowo itu justru bukan tokoh terburuk tapi tokoh yang benar-benar sangat terbaik dan mampu mengarahkan kebijakan yang begitu hebatnya. Alhamdulillah, Pak Raja Juli siuman, insaf gitu,” kata Hamid.

Ada Menko Pangan, Zulkifli Hasan, yang menyebut Indonesia beruntung punya Prabowo Subianto karena mampu menafsirkan keinginan para pendiri bangsa. Ada Menteri Luar Negeri, Sugiono, yang menyebut banyak diplomat asing memuji pidato Presiden Prabowo.

Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Budiman Sudjatmiko, tampak tidak mau ketinggalan dan menyamakan program-program Presiden Prabowo dengan misi para nabi. Bahkan, Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, bisa menangis membela MBG.

“Kalau ada orang yang sampai menghujat atau mengecam programnya, maka kata dia mereka itu akan berhadapan dengan saya, itu suatu pernyataan yang heroik sekali tentu saja. Dalam bahasan sekarang dia seperti pasang badan untuk satu program yang bisa dibilang tidak ada urusan sedikit pun dengan lingkup kerja atau tupoksinya sebagai Menteri Lingkungan. Tapi, saya kira dalam rangka tadi, karena ini ada kompetisi pemujaan, maka orang seperti Pak Jumhur atau mungkin siapa lagi yang lain, itu sudah tidak terlalu pusing tentang tupoksinya, yang penting ngomong sesuatu yang bisa kurang lebih menyenangkan hatinya Bapak Presiden,” ujar Hamid.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, sering mengemukakan pernyataan-pernyataan yang sangat menyenangkan hati Presiden Prabowo, sebelum jadi tersangka. Kepala Bappenas, Rachmat Pambudi, menyebut MBG lebih mendesak dari lapangan kerja.

Kepala BGN pengganti Dadan Hindayana, Nanik S Deyang, menangis sangat memilukan menanggapi kritik-kritik ke Presiden Prabowo. Hamid menyoroti sikap Nanik yang lebih perhatian ke reputasi Presiden Prabowo dibanding pelaksanaan MBG sendiri.

“Nah, jadi itulah kira-kira beberapa orang dan saya yakin masih ada lagi beberapa yang luput ya, baik di level yang sama maupun yang agak di bawah. Belum lagi juru bicara, juru bicara yang juga sering mengemukakan logika-logika yang cukup ganjil semuanya dalam rangka membela junjungannya yaitu Bapak Prabowo Subianto. Sebagai Presiden, sebagai Kepala Negara, sebagai Bapak yang mengangkat mereka di dalam posisi kenegaraan sekarang ini, sesuatu yang hemat saya tidak perlu sejauh itu,” kata Hamid. (WS05)

Temukan kami di Google News.