Kembali ke Bebas-Aktif, Mahfud MD Minta Indonesia Pertimbangkan Kelanjutan di BOP

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (03/03/2026). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (03/03/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD mengingatkan, sejak awal kemerdekaan sikap politik luar negeri Indonesia merupakan bebas-aktif. Artinya, Indonesia tidak terikat pada satu kekuatan manapun, tapi aktif membangun perdamaian dunia.

Kemudian, ia menegaskan, sikap Indonesia terhadap Palestina sejak awal mendukung kemerdekaan Palestina. Termasuk, yang disampaikan Bung Karno di Dasasila Bandung karena Palestina termasuk negara-negara awal yang mendukung kemerdekaan Indonesia.

“Menurut saya memang Indonesia harus kembali ke bebas-aktif itu tadi. Menurut saya, memang perlu dipertimbangkan kelanjutan keterlibatan Indonesia di dalam BOP itu, Board of Peace, menurut saya perlu dipertimbangkan karena banyak orang melihat itu lebih banyak mudaratnya,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (03/03/2026).

Ia menuturkan, Presiden Prabowo memang memiliki hak dan kewenangan-kewenangan tertentu membuat keputusan tentang hubungan internasional sebagai kepala negara. Tapi, Mahfud menekankan, secara rasional dia harus kembali ke perjuangan kita.

“Untuk mendukung kebebasan semua bangsa, hak semua bangsa, termasuk dalam situasi seperti ini juga Iran. Harus Indonesia berada di posisi yang ingin menyelamatkan perdamaian. Oleh sebab itu, mungkin posisi di BOP tidak tepat untuk menyelamatkan perdamaian. Kenapa? Indonesia lewat PBB saja kalau memang itu wadah yang resmi,” ujar Mahfud.

Ia merasa, perdamaian bisa disuarakan lewat lembaga-lembaga resmi seperti PBB daripada BOP yang tidak jelas. Apalagi, Mahfud menyampaikan, BOP diskirinatif karena ingin perdamaian di Gaza tapi tidak melibatkan dan melarang Palestina ikut.

Menurut Mahfud, itu cukup jelas merupakan langkah pembunuhan kepada sebuah bangsa. Ia berpendapat, Indonesia belum terlambat untuk mengambil sikap dan masyarakat tidak perlu pula terjebak pada perdebatan Sunni-Syiah karena ini soal kemanusiaan.

“Oleh sebab itu, saya kira seruan-seruan kita untuk membantu Iran demi kemanusiaan, bukan soal aliran-aliran Sunni-Syiah dan sebagainya, itu menjadi penting. Saya kira Pak Prabowo juga dalam langkah-langkahnya itu karena memikirkan posisi dan langkah yang tepat bagi Indonesia, berhitung tentang posisi dirinya dan posisi Indonesia,” kata Mahfud.

Ia memahami kalau perspektif masing-masing orang berbeda. Tapi, Mahfud melihat, kearifan dalam situasi seperti ini harus dimunculkan karena pemerintah harus arif, tidak boleh pula meneruskan keterlibatan dalam BOP hanya karena sudah terlanjur.

Bagi Mahfud, tidak apa-apa berhenti karena ada kekeliruan kolektif yang harus kita akui. Lalu, arah politik kita diperbarui, terutama untuk perdamaian dunia ini yang menjadi pesan konstitusi kita dan merupakan salah satu tujuan kita dalam bernegara.

“Di antara empat tujuan itu ada melaksanakan ketertiban dunia berdasar pendamaian abadi. Harus ke situ arah politik kita dan itu sudah diterjemahkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, perumus politik bebas aktif itu dulu Bung Hatta yang menyatakan, Bung Karno yang kemudian memberi dukungan bagi kemerdekaan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika, sehingga sejak itu bermunculan negara-negara yang begitu kuat tampil,” ujar Mahfud.

Mahfud menambahkan, masyarakat tidak perlu pula mempertentangkan konsep teokrasi yang disebut tidak demokrasi dan lain-lain. Ia melihat, masing-masing negara memiliki dasar-dasar kedaulatannya, sehingga tidak tepat sibuk mempertentangkan.

“Saya kira ini kemanusiaan, perdamaian dunia. Setiap bangsa mempunyai ideologinya sendiri, mempunyai pandangannya sendiri yang harus dihormati, lalu bekerja bersama-sama membangun perdamaian dunia. Saya kira itu yang perlu bagi Indonesia sekarang,” kata Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.