Uang Ternyata Sering Jadi Alat Regulasi Emosi, Orang Sedih Bisa Jadi Senang

(ilustrasi) Seorang pembeli yang sedang menghitung uang pecahan Rp 100.000 untuk pembayaran. Foto: Junaidi Ibnurrahman
(ilustrasi) Seorang pembeli yang sedang menghitung uang pecahan Rp 100.000 untuk pembayaran. Foto: Junaidi Ibnurrahman

Uang ternyata bukan sekadar alat tukar atau alat pembayaran yang digunakan secara umum. Psikolog klinis, Olphi Disya Arinda mengatakan, financial coping atau penggunaan uang sering digunakan menjadi alat untuk regulasi emosi.

“Banyak orang yang menggunakan financial coping. Jadi, uang itu bukan cuman alat tukar, bukan alat tukar antarbarang aja, tapi juga alat tukar emosi, yang tadinya sedih biar bisa jadi senang lagi,” kata Disya dalam diskusi temu media di Jakarta, Selasa (02/12/2025).

Disya menilai, perilaku-perilaku seperti belanja berlebih, mengambil pinjaman atau menghamburkan uang dijadikan cara tidak langsung mengurangi stres, kesepian, atau rasa tidak berdaya. Ketika seseorang merasa insecure atau ada bagian dirinya yang dirasa tidak puas, mengeluarkan uang seolah seperti punya kontrol atau punya power.

“Banyak orang juga mengeluarkan uang tidak pada tujuan yang tepat, sehingga bisa jadi ini ada latar belakang kondisi emosi yang bisa dibilang kurang sehat. Tanpa disadari ini menciptakan pola yang namanya emotional spending atau emotional debt,” ujar Disya.

Disya menjelaskan, ketika emosi seseorang menjadi sulit untuk berpikir logis atau berpikir dengan cara yang cukup bijak, itu lantaran area di bagian otak yakni amigdala di otak yang berfungsi mengontrol emosi terpicu menjadi lebih aktif.

Di bagian lain otak, prefrontal cortex yang berfungsi mengambil keputusan, pemecah masalah, berpikir strategis, justru bekerja menjadi lebih lambat. Respons amigdala seperti sistem alarm di otak yang membuat hormon kortisol meningkat sebagai tanda ancaman.

“Otak logis kita tuh jadi kayak redup, jadi kita enggak bisa melakukan perencanaan atau pengambilan keputusan yang bijak. Inilah yang membuat seseorang itu cenderung impulsif, menghindar kalau ada masalah atau mengambil keputusan jangka pendek,” kata Disya. (Antara/WS05)