Pakar hukum tata negara, Suparman Marzuki mengatakan, modus kejahatan di sektor bea cukai dan pajak terus berkembang. Di sektor pajak, salah satu yang publik lumrah tahu soal pengaturan hasil pemeriksaan tentang pajak.
Misalnya, seorang pengusaha yang seharusnya membayar pajak Rp 1 miliar. Tapi, oleh petugas pajak ditawari tidak perlu membayar sebanyak itu, tapi cukup membayar Rp 600 juta ke negara, lalu Rp 100 juta ke petugas pajak.
“Daripada bayar Rp 1 miliar, lebih baik Anda bayar Rp 500 juta dan Rp 100 juta dikantongi petugas. Ini biasa dalam pengertian praktik lama yang disebut modus operandi kuno, tapi masih berjalan, masih terus dilakukan,” kata Suparman kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Visi Nomokrasi di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (14/11/2025).
Ada pula pemerasan ketika orang sudah membayar pajak, tapi disebut kurang tepat perhitungannya, keliru, dan pada akhirnya meminta suap. Salah satu yang paling mengerikan yaitu membocorkan data-data rahasia wajib pajak.
Ini turut menjadi bagian dari kejahatan-kejahatan yang terjadi pada jenis kriminalitas lain karena berujung pada pemerasan oleh oknum petugas pajak kepada wajib pajak. Bagi Suparman, ini sudah menjadi kejahatan ganda.
“Saya rasa, ini kalau dilakukan investigasi mendalam ketemu praktik-praktik kejahatan yang sangat mengerikan tersebut. Kemudian, memanipulasi data administrasi perpajakan lazim juga dilakukan dan seterusnya dan sebagainya, berbagai modus operandi dilakukan oleh oknum-oknum dari instansi perpajakan dari pusat sampai ke daerah,” ujar Suparman.
Hari ini, publik menanti Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, memberantas penyakit-penyakit laten, kejahatan-kejahaten laten di dunia keuangan. Baik dari sektor bea cukai maupun dari sektor perpajakan.
Ia mengingatkan, Menkeu Purbaya memiliki tanggung jawab menjalankan kewenangannya dengan sungguh-sungguh. Suparman mengaku memahami, ada tantangan besar dan ada hadangan besar yang akan menerpa Menkeu Purbaya.
“Rakyat memberi support pada Anda. Kami sih berharap, berdoa mudah-mudahan Bapak dilihat oleh Prabowo sebagai modal bagi kemajuan bangsa,” kata Suparman.
Artinya, lanjut Suparman, Prabowo dapat melihat Purbaya sebagai modal penting bagi perbaikan keuangan negara. Sehingga, tidak dilihat sebagai masalah karena publik khawatir ada kekuatan oligarki yang mempengaruhi.
Apalagi, ia menambahkan, dalam banyak peristiwa selalu ada orang-orang alternatif seperti Menkeu Purbaya yang akhirnya terlempar dari panggung kekuasaan. Ini sudah jadi fakta, sehingga selalu jadi kecemasan publik.
“Kami berdoa dan berharap Presiden Prabowo melihat Purbaya sebagai kekuatan bagi Anda, dan Purbaya juga menempatkan diri sebagai agen penting bagi perbaikan negara bangsa kita di sektor keuangan. Semoga saja begitu,” ujar Ketua Komisi Yusidial (KY) periode 2013-2015 tersebut. (WS05)
