Mahfud MD: Sultan Yogya Memberi Contoh Jabatan tidak untuk Gagah-gagahan, Apalagi Menakut-nakuti

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Rabu (29/10/2025). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Rabu (29/10/2025). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, menyoroti betapa hari ini dalam kehidupan kita bermasyarakat, bahkan bernegara banyak orang-orang penting sudah melupakan etika. Misal, ada orang yang merasa bangga karena sukses menjadi pejabat setelah menjilat.

“Orang menjilat untuk menjadi pejabat itu dianggap biasa seperti itu kan, itu kan tidak bagus, sekarang nyatanya di kalangan masyarakat kita itu memang sudah mulai menjamur tindakan-tindakan nir-etika yang ditunjukkan oleh orang-orang penting,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Rabu (29/10/2025).

Kadang, ia melihat, banyak terjadi orang-orang melanggar etika tapi menganggap itu biasa karena tidak melanggar hukum, tidak ada konsekuensi hukum. Misal, ada orang korupsi lalu tampil ke depan publik tanpa merasa bersalah karena belum diadili.

Padahal, Mahfud mengingatkan, dulu Indonesia memiliki Tap MPR Nomor 6 Tahun 2001 yang salah satu isinya pejabat yang menimbulkan kontroversi dan sorotan karena dianggap bermasalah harus mengundurkan diri. Meskipun, belum ada proses hukum.

Mahfud berpendapat, banyak orang-orang yang tidak merasa bersalah karena mereka mengelabui hukum atau berani menakut-nakuti aparat karena jabatan, sehingga tampil tanpa rasa malu. Ada pula yang tanpa malu merangkap jabatan walau jelas dilarang.

“Ada itu (yang bilang) belum ada aturannya, itu kan hanya vonis MK, dan MK itu tidak menyebut dalam amar, hanya menyebut dalam pertimbangan, itu kan tidak etis sama sekali karena aturan itu kan lahir dari nilai-nilai etik nah nilai etik yang belum menjadi aturan itu, itu tetap mengikat secara moral,” ujar Mahfud.

Sekarang, Mahfud menekankan, banyak orang yang sudah tidak punya sopan santun lagi, sudah tidak malu meraih materi dan kedudukan dengan cara asal dapat. Kalau perlu melanggar etika, menjilat, menjatuhkan, memfitnah, saling sikut dan sebagainya.

“Saat yang sama, Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur berperilaku sebaliknya. Dia sangat adab, asor, sangat sopan, berjalan tidak pernah bawa pengawal, kalau ada lampu merah dia berhenti di belakang orang yang di depannya, meskipun kadang-kadang disalib sama pejabat lain dan dia tidak pernah pakai tot tot wuk wuk,” kata Mahfud.

Mahfud, yang merupakan Ketua Parampara Praja atau Dewan Penasihat Gubernur DIY, mengatahui pasti HB X sosok yang santai, tidak meninggikan diri dengan teman. Padahal, ia menekankan, dalam tradisi Jawa sosok HB X jelas sangat dihormati.

Mahfud membagikan salah satu pengalaman bersama HB X di Bandara Juanda, Surabaya, dan pesawatnya kebetulan mengalami keterlambatan. Di Ruang Tunggu VIP yang biasanya disajikan makan, ternyata tidak ada makanan karena petugas kebetulan sudah pulang.

Setelah itu, HB X diminta menunggu karena pegawai-pegawai akan menghubungi petugas makanan yang sudah pulang untuk kembali. Namun, dengan sikap santai, HB X menolak tawaran itu, dan memilih membeli nasi bungkus lalu memakannya bersama Mahfud.

“Kami makan nasi bungkus saja gitu, Gubernur, Raja lagi, tapi ya begitu. Sultan Yogya memberi contoh bahwa jabatan tidak untuk gagah-gagahan, apalagi untuk nakuti-nakuti gitu. Bagi Sultan, yang jabatannya sampai meninggal, itupun tidak sombong. Nah, orang yang jabatannya terbatas hanya lima tahun gitu sombongnya bukan main,” ujar Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.