Abigail Limuria dari What Is Up Indonesia menjadi salah satu pembicara diskusi bertajuk Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media. Saat diskusi, Abigail mengatakan, Sumpah Pemuda masih sangat relevan dibicarakan anak muda kini.
“Malah lebih relevan sekarang sih. Karena gini, tadi Pak Mahfud bilang bahwa hanya 17 tahun setelah Sumpah Pemuda republik deklarasi kemerdekaan. Untuk aku mungkin bisa direframe bahwa 17 tahun sebelum republik ini merdeka, orang-orang muda sudah bisa melihat sebuah negara yang merdeka dan itu luar biasa banget,” kata Abigail, Rabu (15/10/2025).
Dulu, ia menuturkan, pada 1928 ketika mereka masih di bawah penjajahan anak-anak muda ini bisa menginisiasi pertemuan yang pada akhirnya mengambil satu tujuan yang sama mendeklarasikan satu bangsa. Padahal, masa depan belum bisa terlihat dan malah tampak terlihat mustahil untuk diwujudkan mengingat besarnya Indonesia.
Sekarang, ia merasa, apa yang dilihat anak muda tentang masa depan Indonesia yang makmur tentu masih terasa mustahil. Tapi, Abigail mengingatkan, apa yang mustahil bagi anak muda zama dulu, ketika diyakini dan diusahakan ternyata bisa terwujud. Salah satunya, terlepas dari penjajahan dan mendeklarasikan kemerdekaan.
“Kalau ingat sejarah orang-orang muda zaman dulu mereka sudah percaya, mereka deklarasi, dan mereka kejar itu walaupun waktu itu pasti banyak yang bilang, ah ngapain, nggak mungkin deh kita merdeka, alah emangnya negara kita bisa ya berdiri sendiri, pasti banyak yang ngomong gitu, banyak yang pesimis dan sinis,” ujar Abigail.
Selain itu, ia mengingatkan, saat itu Indonesia masih terpecah dalam kelompoknya, rasnya, agamanya, dan daerahnya masing-masing. Bahkan, banyak pula anak-anak muda yang bersekolah di luar negeri dan sebenarnya sudah hidup nyaman di negeri orang.
“Tapi, akhirnya mereka mau menanggalkan itu, meleburkan diri jadi satu, dan bilang satu Tanah Air, satu bangsa, satu bahasa. Mereka bisa aja loh bilang, saya maunya Bahasa Jawa karena Jawa yang paling besar, misalnya. Bisa aja, tapi tidak, mereka menanggalkan itu. Artinya apa? Menurunkan ego dan mereka yang berbeda-beda itu mau bersatu untuk tujuan yang sama,” kata Abigail.
Hari ini, Abigail meyakini, sangat banyak orang-orang muda yang berjuang demi Indonesia tapi mungkin melalui cara-cara yang sangat berbeda. Kadang, mereka berseteru atau mereka berbeda pendapat karena memperjuangkan yang diyakini.
Bahkan, ia merasa, tidak jarang mereka menjadi tidak akur satu sama lain atau saling salah menyalahkan. Tapi, Abigail mengingatkan, sebelum smapai ke titik Sumpah Pemuda, itu mereka yang berbeda pendapat, berdebat, pasti juga banyak.
“Justru karena dialog, debat, dan pengasahan ideologi itu negara kita akhirnya bisa merdeka. Jadi, kita jangan anti sama perbedaan karena ketika perbedaan itu kita bisa sama-sama nurunin ego menjadi satu, mengejar satu tujuan itu bisa hal-hal yang tadinya mustahil akhirnya terjadi,” ujar Abigail.
Mungkin, Abigail menambahkan, hari ini mereka yang sudah ikut bersuara, ikut berjuang, sesekali merasa apa yang mereka lakukan percuma karena belum banyak perubahan terjadi. Tapi, ia menekankan, Sumpah Pemuda saja membutuhkan waktu.
“Dan setelah kemerdekaan masih ada perjuangan lagi. Jadi, banyak banget sebenarnya yang bisa kita lihat dari sejarah ini yang sangat-sangat relevan ke titik kita sekarang, yang konteksnya mereka waktu itu menginginkan kemerdekaan dan sekarang mungkin konteksnya adalah kita ingin mempertahankan kemerdekaan dan demokrasi itu,” kata Abigail. (WS05)
