Podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official tampil berbeda. Dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak kemerdekaan Indonesia, Terus Terang Media menggelar diskusi bertajuk Pemuda Merawat Nalar Bangsa bersama tokoh-tokoh muda.
Diskusi menghadirkan Arie Kriting dari Kaks Production, Abigail Limuria dari What Is Up Indonesia, Leon Hartono dari The Overpost, Tiara Dianita dari Maple Media, dan Ferry Irwandi dari Malaka Project. Sebagai tuan rumah, Mahfud MD mengatakan, Sumpah Pemuda 1928 memang merupakan peristiwa yang sangat dahsyat.
“Dan sampai sekarang menjadi pilar, pilar berdirinya bangsa dan berdirinya negara Indonesia. Itu sebabnya disebut sebagai tonggak dan kita mengadakan peringatan ini kita menjaga tonggak itu. Tonggak itu apa sih semangatnya, semangatnya kebersatuan, sejak ada Sumpah Pemuda itu kita bersatu dan hanya 17 tahun sesudah Sumpah Pemuda kita merdeka,” kata Mahfud, Rabu (15/10/2025).
Padahal, ia mengingatkan, ratusan tahun kita dijajah kekuatan asing atau sekurang-kurangnya terpecah dengan perjuangan sendiri-sendiri. Akhirnya, lewat Sumpah Pemuda kita memiliki apa yang disebut Indonesia. Sumpah Pemuda membuat setiap kita yang berasal dari berbagai latar belakang bisa menyatakan saya orang Indonesia.
Mahfud turut menekankan nilai-nilai yang terkandung dalam Sumpah Pemuda mulai dari bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Bagi Mahfud, spirit luar biasa yang dilahirkan Sumpah Pemuda harus senantiasa kita rawat.
Dari sana, ia menyampaikan, begitu banyak kemajuan mampu diwujudkan Indonesia. Kita punya kedaulatan politik, punya kebebasan untuk berpendapat, punya kebebasan untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat sendiri yang harus disyukuri. Pun bidang-bidang lain yang tidak pernah terbayangkan bisa dimiliki Indonesia sebelumnya.
Meski begitu, Mahfud mengingatkan, Indonesia memiliki tantangan yang masih perlu dihadapi. Salah satu yang utama adalah keserakahan karena ternyata belakangan ini selalu bermunculan korupsi-korupsi yang merugikan masyarakat, kemudian menimbulkan diskriminasi karena ada rasa ketidakadilan yang mengancam kebersatuan.
“Kalau orang diperlakukan tidak adil, barat dan timur kok beda, untuk apa saya ikut? Nah, itu yang akan menyebabkan perpecahan, pecahnya suatu bangsa. Kemudian, primordialisme timbul lagi karena ketidakadilan. Apa bentuknya? Misalnya, radikalisme, kan muncul dari ketidakadilan,” ujar Mahfud.
Maka itu, ia menyampaikan, salah satu cara merawat spirit kebersatuan dalam Sumpah Pemuda tidak lain menjaga diri agar tidak rakus, terutama ketika kita mendapatkan amanah menjadi pejabat-pejabat negara. Sebab, Mahfud menilai, Indonesia begitu kaya dan apa saja yang kita inginkan sebenarnya sudah ada di negara ini.
Namun, ketika kita tidak mampu menangkis kerakusan itu hanya akan menimbulkan satu kecemburuan sosial. Kondisi itu yang kerap membuat orang ingin memisahkan saja dari Indonesia karena pembangunan misalnya, yang hanya dirasakan di Pulau Jawa, kekayaan yang ternyata hanya dirasakan oleh orang-orang Jakarta, dan lain-lain.
“Kan ada yang begitu, sehingga bagi saya, memperingati ini mari jaga persatuan, tapi menjaga persatuan itu dari perspektif saya membangun keadilan, penegakan hukum, dan kejujuran di dalam kita hidup bernegara,” kata Mahfud. (WS05)
