Presiden Hadiri KTT Gaza Di Mesir, Tegaskan Posisi Penting Diplomasi Indonesia

Presiden RI, Prabowo Subianto, berpidato di Konferensi Internasional Tingkat Tinggi untuk Penyelesaian Damai atas Masalah Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara yang diselenggarakan di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Selasa (23/09/2025). Foto: Setpres
Presiden RI, Prabowo Subianto, berpidato saat Konferensi Internasional Tingkat Tinggi untuk Penyelesaian Damai atas Masalah Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara yang diselenggarakan di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Selasa (23/09/2025). Foto: Setpres

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) terkait perdamaian di Gaza, Palestina, yang digelar di Sharm el-Sheikh, Laut Merah, Mesir, Senin (13/10), menandai langkah diplomatik penting Indonesia di kawasan Timur Tengah.

KTT ini dihadiri lebih dari 20 pemimpin dunia dari negara-negara Timur Tengah dan Eropa, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Bacaan Lainnya

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Presiden Prabowo mendapat undangan khusus dari tuan rumah, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, untuk hadir langsung dalam pertemuan tersebut, sehingga beliau segera bertolak menuju Kairo pada Minggu malam.

Iwan Setiawan, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) menilai, kehadiran Prabowo dalam forum bersejarah ini menegaskan posisi strategis dan kredibilitas Indonesia di mata dunia.

“Indonesia tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi sebagai pihak yang diakui memiliki kapasitas moral dan politik untuk berkontribusi nyata dalam penyelesaian konflik panjang antara Israel dan Palestina,” kata Iwan dalam keterangannya, Senin (13/10/2025).

Dia melihat, peran Presiden Prabowo dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan konsistensi yang kuat dalam diplomasi kemanusiaan. Sejak pidato beliau di Sidang Umum PBB ke-80, Indonesia tampil sebagai suara moderat yang membawa keseimbangan antara kepentingan politik dan nilai-nilai kemanusiaan.

Bahkan, gagasan Prabowo untuk mengirim 20.000 pasukan perdamaian menjadi bentuk konkret dari diplomasi berbasis aksi, bukan sekadar pernyataan.

Menurutnya, langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang memposisikan diri sebagai guardian of peace di dunia. Tawaran pasukan perdamaian bukan hanya simbol solidaritas, tetapi komitmen nyata menjaga keamanan pascakonflik.

Apalagi, Indonesia punya pengalaman luar biasa dalam rekonstruksi pascabencana seperti di Aceh dan Nias, yang bisa menjadi model untuk membangun kembali Gaza secara manusiawi dan berkelanjutan.

“Kehadiran Presiden Prabowo di KTT ini membuktikan bahwa diplomasi Indonesia kini tidak hanya berbicara, tetapi bekerja. Menurut saya, inilah wajah baru diplomasi Indonesia, yaitu tenang, berdaulat, dan berorientasi pada hasil nyata bagi perdamaian dunia,” pungkasnya. FB03

Temukan kami di Google News.