‘Pak Prabowo, Ribuan Anak yang Keracunan MBG Itu Manusia, bukan Benda, bukan Barang’

Pegiat HAM, Suparman Marzuki, dalam program Visi Nomokrasi di kanal YouTube Terus Terang Media, Selasa (07/10/2025). Foto: Wahyu Suryana
Pegiat HAM, Suparman Marzuki, dalam program Visi Nomokrasi di kanal YouTube Terus Terang Media, Selasa (07/10/2025). Foto: Wahyu Suryana

Pegiat HAM, Suparman Marzuki, menyoroti respons pemerintahan Presiden Prabowo yang memandang korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) dari sudut pandang angka semata. Padahal, jumlah korban sudah mendekati 10.000 anak dari seluruh Indonesia.

Bagi Suparman, ini angka yang sudah luar biasa karena mereka merupakan manusia dan kita tidak boleh mengecilkan hanya karena jumlahnya masih lebih kecil dari target penerimanya. Sikap dasar kita harusnya melihat ini sebagai ancaman bagi kehidupan.

Sayangnya, ia berpendapat, respons Presiden Prabowo atas banyaknya anak-anak yang menjadi korban atas program MBG terbilang mengecewakan. Presiden Prabowo tampak tidak bergemik, bahkan meminta untuk disiapkan lagi 30.000 dapur sampai akhir 2025.

“Angka korban yang sudah menginjak 8.000 lebih dalam catatan sejumlah pihak, tentu bukan angka kecil. Karena ini menyangkut manusia, sekali lagi manusia, bukan benda, bukan barang,” kata Suparman kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Visi Nomokrasi di kanal YouTube Terus Terang Media, Selasa (07/10/2025).

Suparman menegaskan, mereka orang-orang yang memiliki hak untuk terus sehat dan mendapat perlindungan optimal dari negara terhadap kehidupannya, terhadap nyawanya. Sayangnya, respons pemerintah tidak menunjukkan empati atas penderitaan korban.

Sampai hari ini, ia belum mendengar permintaan maaf dari penyelenggara MBG. Mereka, lanjut Suparman, justru ingin mengecilkan kalau itu hanya sekian persen dari orang yang akan mendapat manfaat dari ini dan itu terjadi lebih karena pengorganisasian.

Padahal, fakta-fakta di lapangan membuktikan bahwa penanganan yang tidak serius dari penyelenggara yang mendapatkan hak pengelolaan telah menunjukkan MBG memang tidak benar-benar disiapkan. Pasalnya, tidak ada manajemen krisis yang disiapkan.

“Apa lacur, situasi sudah sedemikian memburuk. Saya tidak tahu apakah diksi ini diterima, dipahami pemerintah, yang pasti MBG telah dikonstruksi sejumlah pihak sebagai proyek yang menelan keuntungan besar. Catatan sebuah majalah nasional keuntungan dari satu item makanan Rp 2.000, kalau satu dapur bisa mengelola 3.500 kotak makanan keuntungan sudah Rp 7 juta, belum kalau dia mendapat angka lebih besar. Kalau dihitung per bulan, Rp berarti 14 juta per bulan,” kata Suparman.

Suparman melihat, angka ini memang seksi dan mengundang sejumlah pihak ambil bagian dalam proyek ini. Kabarnya, sejumlah politisi sudah meminta proyek 2026 karena ada kabar Presiden Prabowo menganggarkan angka cukup besar, Rp 335 triliun untuk 2026.

Angka yang fantastis itu tentu menggambarkan keuntungan besar yang bisa didapatkan. Menurut Suparman, sesuatu yang diproyeksikan seperti itu tentu akan membuat orang berpikir tentang keuntungan dan menyepelekan kerugian dan dampak-dampak buruknya.

“Karena sudah jelas siapa yang akan menikmati adalah para murid, sudah jelas yang akan menjadi konsumen adalah para siswa,” ujar Suparman. (WS05)

Temukan kami di Google News.