Jelang Rilis PCE AS, Rupiah Diprediksi Melemah karena Pasar ‘Wait and See’

(ilustrasi) Tumpukan uang dolar dan uang rupiah. Foto: Rohman Hidayat
(ilustrasi) Tumpukan uang dolar dan uang rupiah. Foto: Rohman Hidayat

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova memperkirakan, nilai tukar (kurs) rupiah melemah seiring sikap wait and see investor menjelang rilis data inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat (AS).

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah kisaran sempit Rp16.680-Rp16.710, dipengaruhi oleh faktor global kenaikan index dollar sehubungan dengan wait and see data inflasi inti PCE AS yang akan rilis Jumat (26/9) malam,” kata Rully, Rabu (24/09/2025).

Inflasi inti PCE AS bulanan pada Agustus 2025 diperkirakan 0,2 persen, di bawah realisasi Juli 2025 yaitu 0,3 persen. Sentimen rupiah datang pula dari pernyataan Gubernur Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, soal pemangkasan suku bunga.

Powell menyatakan kalau penurunan suku bunga ke depan masih akan terbatas karena risiko inlasi akibat kebijakan tarif. Hal tersebut semakin memperuncing perpecahan dengan anggota The Fed yang lain yang menginginkan penurunan suku bunga lanjutan,

“Serta, menambah ketidakpastian kebijakan suku bunga ke depan,” ujar Rully.

Melihat sentimen dari dalam negeri, pelemahan kurs rupiah dipengaruhi sikap pelaku pasar yang mencemaskan disiplin fiskal pemerintah dan independensi Bank Indonesia (BI). Posisi defisit anggaran jadi salah satu yang dikhawatirkan pelaku pasar.

“Posisi defisit anggaran yang saat ini sudah mendekati batas threshold di 3 persen,” kata Rully.

Pada Rabu (24/09/2025), nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta sendiri masih menguat sebesar 4 poin atau 0,03 persen menjadi Rp 16.684 per dolar Amerika Serikat (AS). Menguat dari sebelumnya Rp 16.688 per dolar AS. (Antara/WS05)

Temukan kami di Google News.