Analis politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun mengatakan, kepemimpinan Presiden Prabowo tampak jauh dari apa yang banyak orang bayangkan sebelumnya. Hal itu semakin tampak dari cara Prabowo menangani situasi negeri belakangan ini ketika gelombang protes terjadi di mana-mana.
“Dari situ kita tahu tampaknya leadership Prabowo tidak seperti yang orang bayangkan, sebenarnya saya sudah menangkap tanda-tandanya ketika Prabowo mengatakan Joko Widodo adalah guru saya, dari situ polanya sama dan mereka pasti ada semacam kontrak tertentu yang membuat mereka bersekutu dalam pemilu,” kata Ubed kepada terusterang.id, Kamis (04/09/2025).
Ubed melihat, ketika DPR merespons aspirasi public dengan narasi-narasi yang menyepelekan, bahkan cenderung menghina, menjadi semacam akumulasi dari masalah-masalah yang membuat publik marah. Tapi, ia merasa, sebenarnya saat demo 25 Agustus 2025 kemarahan publik masih tidak terlalu militant.
Bagi Ubed, semua itu berubah begitu ada peristiwa pelindasan seorang sopir ojol, Affan Kurniawan, oleh Brimob yang memicu kekecewaan kolektif yang luar biasa. Ia berpendapat, terbangunnya solidaritas yang kuat itu yang menyebabkan gerakan-gerakan kolektif dari berbagai elemen muncul semakin luar biasa.
Ubed menyayangkan, respons Prabowo sebagai Presiden RI malah menuding aksi unjuk rasa yang terjadi merupakan campur tangan aktor-aktor asing. Bahkan, Prabowo menggunakan diksi-diksi seperti teroris, makar, yang dinilai sebagai analisis yang sangat keliru karena tidak berbasis data-data yang empiris.
“Ketika Presiden menyampaikan pidato saya bilang ini komunikasi politiknya selevel itu ya, kok bisa begitu, dia pidato sendirian, tidak ada orang lain, narasinya kontra-produktif dengan aspirasi public, keinginan publik tidak ditangkap dengan sangat rasional,” ujar Ubed.
Dampaknya, lanjut Ubed, pidato Presiden Prabowo tidak mampu meredakan gelombang demonstrasi yang terjadi di Tanah Air. Setelah itu, Prabowo malah mengundang banyak tokoh-tokoh, terutama agama, lalu diminta menyampaikan pesan yang jelas tidak meredakan demonstrasi yang masih terjadi di mana-mana.
“Jadi, kemampuan membaca secara detail dari peristiwa itu saya lihat ini bermasalah,” kata Ubed.
Prabowo, lanjut Ubed, tidak mampu pula membedakan antara kelompok mahasiswa, civil society, lalu ada lapisan-lapisan yang disebut radikal atau anarko yang sebenarnya berada dalam area yang berbeda. Ubed menegaskan, mereka yang melakukan kekerasan tentu elemen tertentu yang mudah diungkap keplisian.
Justru, Ubed mengaku heran, langkah yang dipilih aparat kepolisian malah menangkap aktivis-aktivis mahasiswa atau tokoh-tokoh dari kelompok pro-demokrasi yang membuat penanganan semakin tidak tepat sasaran. Ubed curiga, Prabowo memang tidak memberi ruang terbuka untuk banyak informasi.
“Ada yang mungkin sangat intens memberikan informasi kepada Presiden, tapi informasi yang justru tidak matang. Mestinya, kalau matang dia punya narasi yang lebih canggih untuk melihat yang terjadi,” ujar Ubed. (WS05)
