Kekurangan Zat Besi Ternyata Bisa Turunkan IQ Anak

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, saat hadir di program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, (05/06/2025). Foto: Wahyu Suryana
Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, saat hadir di program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, (05/06/2025). Foto: Wahyu Suryana

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso mengatakan, kekurangan zat besi dalam tubuh dapat menurunkan IQ. Bahkan, bisa menyebabkan gangguan tumbuh kembang anak.

“Ini sebetulnya suatu kondisi yang bisa dicegah. Namun, apabila tidak tertangani, tidak ketahuan, tidak terdeteksi, atau terdeteksi tapi tidak diatasi dengan baik, dampaknya bisa sangat merugikan ke anak di masa depannya,” kata Piprom dalam sebuah diskusi di Jakarta, dikutip Rabu (03/09/2025).

Piprim menerangkan, kondisi itu sangat bergantung pada kecukupan kadar zat besi pada anak. Salah satu cara agar dapat menghindari kondisi itu yakni dengan memberikan anak banyak asupan protein hewani.

Menurut Piprim, orang tua tidak perlu mencari bahan-bahan pangan yang mahal secara harga. Tapi, orang tua dapat menggunakan bahan lokal seperti hati ayam yang sudah terbukti kaya mengandung zat besi.

Piprim mengingatkna, jika sudah telanjur mengalami kekurangan zat besi, maka anak perlu mendapatkan asupan suplemen zat besi. Terapi yang dijalankan bisa memakan waktu dua sampai enam bulan lamanya.

Sayangnya, orang tua sering merasa bosan menuntaskan terapi. Karenanya, Piprim menekankan, orang tua dan dokter perlu kolaborasi agar anak terhindar kekurangan zat besi hingga anemia defisiensi besi (ADB).

“Kejadian anemia defisiensi besi ini masih cukup sering pada anak-anak kita, masih cukup tinggi kejadiannya, dan ini tentu saja bisa menghambat tercapainya generasi emas ya di 2045,” ujar Piprim.

Data IDAI, kekurangan zat besi berpotensi mengenai anak sejak bayi dan usia 0-12 bulan menjadi waktu yang sangat krusial. Prevalensi anemia pada anak usia 6- 59 bulan secara global pada 2019 sudah 39,8 persen. Sedangkan, di Indonesia mencapai 38,5 persen yang mayoritas disebabkan oleh ADB.

Ada beberapa dampak yang akan dialami anak bila telanjur terkena ADB. Antara lain, anak mengalami gangguan perkembangan motorik, penurunan kemampuan kognitif, gangguan perilaku, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, hingga gangguan mielinisasi yang ireversibel. (Antara/WS05)