Intelektual, Hamid Basyaib, melihat penangkapan Wamenaker, Immanuel Ebenezer Gerungan atau Noel, masih dalam kerangka dejokowisasi oleh Presiden Prabowo. Sebab, seperti dikenal luas oleh publik, Noel memang merupakan loyalis Jokowi yang sangat gigih, bahkan menjadi Ketua Jokowi Mania atau Joman.
“Jadi, saya kira ini bagian dari dejokowisasi yang digencarkan oleh pemerintahan Prabowo, karena apa, karena Noel ini dikenal luas sebagai loyalis Jokowi yang luar biasa gigih, selain beberapa orang lain juga yang sama gigihnya kurang lebih sama dia yang saya kira saat ini sedang ketar ketir, sedang menunggu kapan OTT tiba di rumahnya,” kata Hamid dalam Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (24/08/2025).
Maka itu, ia merasa, penangkapan Noel memang bisa dibaca sebagai bagian program besar dejokowisasi yaitu mengikis atau menghilangkan pengaruh-pengaruh bekas presiden Joko Widodo. Yang mana, sejauh ini masih cukup terasa Jokowi menggunakan atau memanfaatkan pengaruhnya dalam perpolitikan kita.
Dalam kerangka dejokowisasi, Hamid mengingatkan sebelumnya sudah ada pembebasan Tom Lembong dan Hasto Kristiyanto melalui abolisi dan amnesti oleh Prabowo. Ia menilai, itu seperti pesan gamblang, pesan lantang dari Presiden Prabowo bahwa 2 kasus orderannya Pak Jokowi itu sama dia dinetralkan.
“Lalu, ada cerita-cerita lain yang menunjukkan berlangsungnya dejokowisasi dan kali ini menyangkut salah seorang loyalis Jokowi yang paling lantang, yaitu Noel atau Immanuel Ebenezer ini. Di luar itu ada orang seperti Budi Arie, menjadi Menteri sekarang, ada orang seperti Pratikno, Letnan Jokowi yang luar biasa,” ujar Hamid.
Hamid berpendapat, orang-orang yang jadi loyalis Jokowi, seperti Jokowi sendiri, ternyata tidak punya political and social base, serta tidak memiliki kepakaran. Karenanya, saat orang-orang seperti itu ditangkap, tidak ada pula yang bisa membantu karena memang tidak memiliki basis basis sosial dalam politik.
Hamid memprediksi, hari-hari mendatang akan ada mimpi buruk buat Jokowi yang semakin buruk karena satu-persatu orangnya dipatahkan. Sebab, tidak mungkin Prabowo sebagai Presiden tidak tahu rencana penangkapan Noel karena KPK tidak lagi lembaga independen, tapi dia ada di bawah Presiden langsung.
Sebelum UU KPK diubah, Hamid mengingatkan, KPK memang tidak perlu lapor, pamit, atau izin Presiden jika ingin menangkap seseorang. Tapi setelah direvisi, KPK berada langsung di bawah Presiden, sehingga penangkapan seorang Wamen seperti Noel pasti diketahui atau berarti direstu oleh Presiden Prabowo.
“Kita berharap, program dejokowisasi ini berjalan terus supaya presiden kita yang sekarang, yang dipilih rakyat, Pak Prabowo, menjadi presiden seutuhnya. Dulu Pak Harto sering ngomong kita perlu menciptakan manusia seutuhnya, kita juga ingin Pak Prabowo jadi presiden seutuhnya, tidak lagi di cawe-cawe, tidak lagi menjalankan atau menenggang, setidaknya menoleransi atau mengakomodasi keinginan Pak Jokowi,” kata Hamid.
Misalnya, IKN yang tidak ada lagi disebut Prabowo, walaupun hampir jadi obsesi Jokowi. Bahkan, warisan-warisan Jokowi terkait itu seperti upacara 17 Agustus yang digelar di IKN ditambah UU tentang DKI Jakarta yang diubah jadi DKJ saja, tahun ini oleh Prabowo upacara dikembalikan lagi ke Istana Negara di Jakarta.
Tentu, kata Hamid, selama berkuasa 10 tahun Jokowi tentu menebar banyak orang dan banyak loyalis di berbagai sektor dan berbagai tingkatan. Karenanya, ia menduga, program atau proyek besar dejokowisasi ini akan berlanjut, dan Prabowo diyakini sudah mengetahui atau mengidentifikasi siapa-siapa saja mereka.
“Pak Prabowo pasti didukung oleh rakyat, apalagi menunjukkan ketegasan, apalagi dia bilang, pokoknya juru bicaranya beberapa kali ngomong, pokoknya Pak Presiden menghormati hukum, silakan diusut sebagaimana mestinya menurut hukum. Itu pernyataan yang cukup membesarkan hati dan mudah-mudahan benar-benar dipegang secara konsisten sambil terus melanjutkan program besar dejokowisasi,” ujar Hamid. (WS05)
