Awas, Episentrum Konflik Global Bisa Bergeser dari Timur Tengah ke Asia, bahkan ASEAN

Islah Bahrawi dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (07/08/2025). Foto: Wahyu Suryana
Islah Bahrawi dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (07/08/2025). Foto: Wahyu Suryana

Perang antara Thailand dan Kamboja betul-betul mengejutkan kita semua, terutama orang yang menganggap Asia Tenggara merupakan gugusan dari negara-negara yang aman dan damai saja. Terlebih, hampir tidak pernah ada konfrontasi terbuka, apalagi saling tembak senjata di ASEAN.

“Ada kemungkinan besar bahwa episentrum kkonflik global akan bergeser dari Timur Tengah ke Asia Tengah atau Asia Selatan, atau bergulir ke Asia Tenggara, dan tidak menutup kemungkinan itu akan bergulir ke Asia bagian timur, mungkin Korea, Jepang, Korea Utara dan seterusnya,” kata tokoh Madura, Islah Bahrawi dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (07/08/2025).

Ia menilai, semua perang yang terjadi selama ini seperti Israel-Mesir, Israel-Iran, Israel-Palestina, Israel-Lebanon atau India-Pakistan disebabkan kesepakatan zaman kolonial. Pasalnya, negara-negara ini sendiri merupakan wilayah-wilayah yang sudah dipetakan penjajah pada masanya.

Itu semua merupakan produk-produk kolonial atas pemetaan yang dilakukan Sykes Picot, kemudian diperkuat Arthur James Balfour. Artinya, ketika itu penjajahan Inggris dan Perancis telah membuat kesepakatan untuk membuat petak-petak wilayah menjadi satu negara.

“Karena dia ingin membuntungi kekuasaan kekaisaran Utsmani, sehingga dibuat negara-negara yang kita kenal hari ini di Timur Tengah, sehingga Timur Tengah dengan bangsa yang kurang lebih sama, bahasa yang kurang lebih sama, dengan agama yang kurang lebih sama secara mayoritas beragama Islam, tapi mereka terpecah belah menjadi banyak negara,” ujar Islah.

Islah menekankan, produk-produk colonial itu memiliki satu tujuan yaitu agar mereka ke luar dari kekaisaran Ottoman di Turki. Harapannya, dengan terpecah belahnya negara-negara di Arab jadi kecil-kecil, mereka tetap berada di bawah kendali imperium Inggris atau imperium Eropa.

Menurut Islah, itu semua yang hari ini menjadi warisan masa lalu yang menyulut perang setiap saat, termasuk Pakistan dan India yang bekas jajahan Inggris. Pun negara-negara di sekitarnya seperti Bangladesh, Sri Langka, yang tadinya menjadi satu kekuasaan imperium kolonis Inggris.

Selain itu, ada Jammu dan Kashmir, bahkan Balochistan yang berada di perbatasan Pakistan dan Afganistan. Menurut Islah, ini merupakan petaka yang diwariskan oleh zaman kolonial, seperti perebutan perbatasan yang belakangan terjadi di Asia Tenggara antara Thailand dan Kamboja.

“Persoalan perbatasan dan situs-situs perubakala, situs-situs candi warisan dari Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang diperebutkan dua negara karena ada ambiguitas keputusan dari kolonial Perancis, ini tidak menutup kemungkinan semua akan terjadi,” kata Islah.

Termasuk, lanjut Islah, di Indonesia yang sudah pernah mengalami warisan tidak nyaman dari kolonial seperti konflik yang terjadi di Papua yang merupakan warisan dari kolonial Belanda. Termasuk, yang terjadi di Aceh atau Timor Timur yang merupakan pemetaan sepihak dari Eropa.

Menurut Islah, berbagai sengketa perbatasan terjadi karena pembagian atau pemetaan yang ada memang tergantung kesepakatan kolonis-kolonis. Karenanya, ia berharap, kita semua mewaspadai ini karena jadi satu tanggung renteng yang akan terus dihadapi berbagai negara.

“Saya memprediksi sejak awal bahwa warisan kolonial ini akan mudah dipantik menjadi perang terbuka antara negara, demi kepentingan eoekonomi dan geopolitik hari ini,” ujar Islah. (WS05)