Kepala PPATK, Ivan Yustiavandana mengatakan, kebijakan penghentian sementara rekening tidak aktif sudah berdampak untuk pemberantasan berbagai tindak pidana. Mulai narkotika, korupsi, perpajakan, illegal logging, illegal mining, termasuk judi online atau judol.
Ivan mengungkapkan, sebelum PPATK melakukan penghentian sementara transaksi deposit perjudial online pada April sampai menyentuh angka Rp 5 triliun lebih. Setelah penghentian sementara rekeing tidak aktif pada Mei turun sampai Rp 2,29 triliun dan terus turun.
“Kita lakukan penghentian sementara, kita lindungi. Justru, rekening-rekening itu kita lindungi dari kegiatan-kegiatan ilegal ini, lalu terus turun sampai sekarang per Juni tersisa Rp 1,5 triliun. Artinya, penurunan deposit itu jauh sangat siginifikan sampai 80 persen,” kata Ivan dalam program Kita Bicara di YouTube Mahfud MD Official, Senin (04/08/2025).
Ia menekankan, kebijakan penghentian sementara rekening tidak aktif sudah lalui diskusi yang panjang dan sebenarnya sistem perbankan yang harus dipatuhi. Rencana itu malah sudah disampaikan beberapa kali baik ke Presiden Jokowi maupun Presiden Prabowo.
Basisnya, lanjut Ivan, rekening-rekening tidak aktif ini berdasarkan analisis PPATK menjadi media bagi pelaku tindak pidana untuk menyembunyikan harta kekayaan ilegalnya. Kini, ia menekankan, mereka sudah tidak mudah lagi ketika mencoba melakukan akses ke bank.
Jadi, solusinya adalah menggunakan rekening yang eksisting. Maka itu, kalau kita mencari saja di marketplace cerita-cerita mengenai pembobolan bank, peretasan bank, baik yang dilakukan orang dalam atau luar, bahkan ketik saja jual beli rekening itu banyak sekali.
“Pertanyaannya, apakah kemudian pemilik-pemilik rekening itu memiliki pengetahuan terkait rekening masing masing, ternyata berdasarkan data yang kami dapatkan lebih dari 100 juta rekening di Indonesia saja dari 103 bank kategorinya tidak aktif,” ujar Ivan.
Bagi Ivan, ketika tindak pidana judol sulit sekali dilakukan pencegahan sejak dini memang tidak bisa ditangani satu kasus ke kasus lain. Ia merasa, harus dilihat kembali masalahnya dan salah satu yang membuatnya marak uangnya disembunyikan melalui pencucian uang.
Pelaku, kata Ivan, bersembunyi di balik kerahasiaan perbankan dan yang membuat mudah melakukan pencucian uang salah satunya terlalu banyak rekening tidak aktif. Ivan menilai, ini merupakan salah satu cara di luar pengkinian data memang prinsip internasional.
Menurut Ivan, negara memang harus melakukan proteksi dari upaya-upaya pelaku kriminal menyalahgunakan rekening secara tidak bertanggung jawab. Ia menambahkan, sejak Mei setiap harinya sudah pula dilakukan pembukaan kembali rekening yang tidak bermasalah.
“Sejak Mei 2025 kita melakukan (pembukaan) baru berapa bulan lalu sampai hari ini sudah lebih dari 30 juta, sejak Jumat kemarin, Senin ini sudah berkembang lagi, itu tidak ada masalah sampai kita tarik mundur di Mei 2025, artinya pembukaan kita lakukan setiap hari,” kata Ivan. (WS05)
