Dalam Kasus Teddy, Prabowo Disarankan Tiru SBY yang Ajarkan AHY Jadi Gentleman

presiden prabowo, seskab teddy indra wijaya

Hadiah yang diberikan kepada Teddy Indra Wijaya berupa Letnan Kolonel (Letkol) kembali menuai polemik usai pengangkatannya sebagai Sekretaris Kabinet (Seskab) memicu kontroversi. Pengamat militer, Selamat Ginting mengatakan, Presiden Prabowo seharusnya bisa mencontoh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

SBY, ketika Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ingin mengikuti kontestasi Pilkada Jakarta, mengajarkan agar tidak menyalahi aturan-aturan yang ada dan secara gentleman memilih mundur dari TNI. Padahal, Ginting menuturkan, beberapa bulan sebelum Pilkada Jakarta, sebenarnya AHY sudah saatnya menjadi Letkol.

“Itu kan di era (Presiden) Jokowi dia, dia mundur, gentle mundur. Padahal, Pilkada Jakarta Februari 2017 dia ikut kontestasi, mestinya 1 April 2017 itu dia sudah waktunya jadi Letnan Kolonel,” kata Ginting dalam program Sate Demokrasi yang tayang di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kamis (13/03/2025).

SBY, lanjut Ginting, sudah pula memberikan contoh saat menempatkan Mayjen Tanribali Lamo dari Asisten Personel KASAD yang akan dijadikan Pj Gubernur Sulawesi Selatan. Saat itu, dibuat SK agar Tanribali jadi Staf Ahli di Mendagri, dipensiunkan terlebih dulu baru setelah itu bisa menempati posisi Pj Gubernur.

“Ini tidak dilakukan Presiden Prabowo, padahal ini almamaternya, belajarlah dari SBY yang bagus-bagus,” ujar Ginting.

Ginting mengingatkan, AHY meurpakan anak mantan Presiden RI, tapi tidak semena-mena diberikan satu kenaikan pangkat percepatan. Padahal, AHY sendiri saat itu sudah Sesko Angkatan Darat di luar negeri, sudah memenuhi syarat dan hanya berjarak beberapa bulan, tapi tidak mendapat kenaikan pangkat.

“Jadi, Pak Prabowo ini almamatermu, mohon Anda lebih tertib, kasihan, jangan-jangan di sekeliling Anda banyak ABS, asal bapak senang, Teddy kembalikan saja. Buktikan dong, jangan omon-omon dalam kasus Teddy,” kata Ginting.

Ginting menerangkan, jika Teddy tidak ingin pensiun dini dari TNI dan tetap ingin di militer, sebenarnya tinggal melepas jabatan Seskab dan dia bisa menjadi asisten ajudan presiden. Ginting menegaskan, itu merupakan jabatan yang sudah sangat tepat karena Teddy sendiri belum layak menjadi ajudan presiden.

Ia turut mempertanyakan kinerja Teddy sebagai Seskab karena selama ini malah lebih banyak bersikap seperti ajudan. Apalagi, Teddy yang merupakan Seskab lebih banyak bertugas mendampingi Prabowo, membawakan map, membuka dan menutup pintu mobil Prabowo selayaknya seorang ajudan presiden.

Teddy, Ginting mengingatkan, tidak lulus Sesko AD dan tidak ada catatan di Kelapa Dua, sehingga kalau dia lulusan akademi militer 2011, berarti dia baru bisa menjadi Letkol pada 2034. Sedangkan, teman-teman Teddy yang satu Angkatan baru per 1 April 2025 nanti mengalami kenaikan pangkat dari Kapten ke Mayor.

Artinya, ada waktu setidaknya 9 tahun yang dilampaui akibat pangkat hadiah tersebut. Bahkan, Ginting menambahkan, Teddy yang memang sudah di Kelapa Satu di Amerika Serikat tapi belum di Kelapa Dua, dia masih belum layak mendapatkan pangkat Mayor karena dia baru bisa menjadi Mayor pada 2027 nanti.

“Untuk menjadi Mayor dari Kapten itu butuh 6,5 tahun, dari Mayor ke Letkol butuh waktu 4,5 tahun, nah Teddy Mayor sudah 4,5 tahun belum, belum, dia naik jadi Mayor aneh, jadi Letkol apalagi,” ujar Ginting. (*)

Temukan kami di Google News.