Sejahat, Sebejat, atau Sebajingan Apapun Orang Islam Pasti Masuk Surga, Benarkah?

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (08/05/2026). Foto: Wahyu Suryana
Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (08/05/2026). Foto: Wahyu Suryana

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, merespons keras adagium ‘orang Islam pasti masuk surga’ yang banyak berkembang di publik. Adagium itu kembali jadi kontroversi setelah kasus pencabulan praktisi keagamaan di Pati.

“Kalau kemudian kita harus mengakui karena dia seorang Muslim pelaku kejahatan ini, lalu kemudian kita menganggap sebejat-bejatnya orang Muslim pasti akan masuk surga, saya tidak terima dengan pernyataan seperti ini,” kata Islah kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (08/05/2026).

Ia mengkritik keras ajaran-ajaran, termasuk ustad-ustad yang mengatakan sebejat-bejatnya, sebajingan-bajingannya, atau sejahat-jahatnya orang Islam, pasti masuk surga. Islah menilai, adagium-adagium seperti ini malah bisa memicu kejahatan.

“Saya tidak terima dengan hal seperti ini kalau kemudian adagium ini dikenakan kepada pelaku kejahatan moral yang di Pati, yang di Jawa Barat, di Jember, dan beberapa pelaku-pelaku dan praktisi agama yang kemudian melakukan kejahatan-kejahatan moral seperti ini. Menurut saya, pernyataan-pernyataan seperti ini akan membuat lengah pemeluk agama, terutama dalam Islam, seolah-olah silahkan orang Islam berbuat kejahatan apapun karena nantinya akan masuk surga juga,” ujar Islah.

Bagi Islah, ia lebih baik meminta Allah memasukkan ke surga para pelaku kemanusiaan yang bukan seorang Muslim seperti Bunda Teresa. Dapat pula pelaku kemanusiaan di Gaza yang bukan seorang Muslim, tapi meninggal karena ditembaki tentara Israel.

Islah mengajak masyarakat membangun moral bukan karena hegemoni keagamaan. Justru, harus mengutuk keras kebejatan moral atas nama agama, yang menjadikan agama sebagai modus penipuan, atau modus kejahatan seperti yang dilakukan praktisi keagamaan.

“Ini tidak cuma terjadi dalam Islam, ini juga terjadi di agama lain, pencabulan-pencabulan seperti ini juga menghinggapi berbagai praktisi keagamaan di agama lain. Oleh karena itu, kesadaran kita dalam beragama bukan hanya dalam konteks hegemoni penghakiman, yang seolah-olah kalau agamanya sama, kemudian kita bela. Tidak! Dipati ini meskipun dikatakan berulang kali bahwa pendok pesantrennya terafiliasi dengan ajaran Nahdin, saya tetap menghujat mereka, apapun atribusinya,” kata Islah.

Menurut Islah, orang bejat seperti di Pati, yang mencabuli santrinya dan menganiaya moral anak miskin dan yatim tidak layak dianggap akan masuk surga. Itu penting jadi upaya-upaya kita menjunjung tinggi kebaikan moral pemeluk agama, apapun agamanya.

Islah mengingatkan, akhirat, surga dan neraka merupakan satu-satunya tempat adil setelah peradilan Tuhan berlaku kepada siapapun. Karenanya, ia meyakini, orang-orang baik, apapun agamanya, pasti doiberikan tempat yang layak oleh Tuhan.

“Oleh karena itu, saudara-saudaraku semua, marilah kita menjaga agama kita itu dengan perbuatan-perbuatan moral kita sebaik mungkin. Kita manusia tidak ada yang sempurna. Saya, Anda, dan beberapa orang lainnya di seluruh dunia ini tentu saja bukan malaikat. Semua punya peluang untuk berbuat jahat, tapi sebatas mana kita bisa mengendalikan kejahatan itu dari dalam nurani kita,” ujar Islah.

Islah menambahkan, siapapun kita tidak boleh menahan apapun yang ada dalam pikiran untuk kebaikan moral, kebaikan kita dalam beragama dan berbangsa. Termasuk, untuk meneriakkan yang benar sebagai benar, yang salah sebagai salah, apapun agamanya.

Terakhir, Islah mendorong aparat penegak hukum untuk bisa segera memproses hukum pelaku praktisi keagamaan yang berbuat cabul di Pati. Menurut Islah, itu penting agar masyarakat tetap meyakini hukum berjalan tanpa pandang bulu di Indonesia.

“Sekali kita tidak bertindak tegas kepada perbuatan seperti ini, orang lain tentu saja akan menganggap bahwa penegakan hukum kita tidak berdaya lagi terhadap bangkitnya moral dan terhadap berbagai aksi-aksi kemanusiaan di mana kita harus saling melindungi dan saling menghormati satu sama lain,” kata Islah. (WS05)

Temukan kami di Google News.