Pakar hukum tata negara Mahfud MD meminta, mahasiswa dan kalangan akademisi tak putus harapan terhadap Indonesia. Apapun yang tengah terjadi, kampus diminta tetap mengawal keberlangsungan NKRI.
“Sebab Indonesia adalah masa depan mahasiswa. Sebaliknya, mahasiswa juga masa depan Indonesia. Semua ini kita lakukan karena kita tidak boleh pernah lelah mencintai Indonesia,” kata Mahfud saat Terus Terang Mahfud MD Goes To Campus di Auditorium Fakultas Hukum (FH) Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Selasa (25/2/2025).
Acara yang digelar kolaborasi dengan Podcast Topo Santoso dan FH UI ini mengangkat tema Penegakan Hukum, Keadilan, dan Demokrasi. Mahfud tidak berorasi seperti kuliah umum, melainkan mendapat beragam pertanyaan dari mahasiswa, wartawan, hingga pelajar SMA yang hadir.
Mahfud diserbu pertanyaan dari mulai kondisi ekonomi, penegakan keadilan, kasus, perkembangan politik dan hukum, hingga pesimistisnya generasi muda dan mahasiswa melihat kondisi negara saat ini.
Kepada mahasiswa yang merasa saat ini Indonesia tengah gelap, Mahfud mengutip Jalaluddin Rumi di kitab Asnawi. Jika kamu merasa disekelilingmu gelap gulita, maka lihatlah dirimu, mungkin kamu salah satu lilin itu.
“Apa masih ada harapan? Masih. Tidak pernah ada saran dari manapun dan siapapun untuk berputus asa,” ingat mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini.
Dikatakan, proyeksi Indonesia Emas 2045 dapat terwujud jika negara ini dikelola dengan baik. Misalnya, mengutip eks Ketua KPK Abraham Samad, jika korupsi sektor pertambangan saja dihabisi, maka per kepala orang Indonesia dapat Rp 20 juta. Itu baru tambang, belum hutan, laut, dll.
Ditegaskan Mahfud, SDA Indonesia sangat kaya raya. SDM-nya juga semakin bisa diandalkan. Geogfrafi dan demografi Indonesia modal besar untuk sejahtera. Asal manusianya dicerdaskan dan disekolahkan dan pengelolanya berintegritas.
Diyakini, selama masih menganut demokrasi yang meniscayakan terjadinya sirkulasi kekuasaan dan kritik ke Pemerintah, Indonesia Emas bisa tercapai.
“Akan tetapi, jika ketidakadilan, korupsi dibiarkan, Indonesia bisa bubar 2030, seperti pidato Pak Presiden Prabowo 2018 lalu. Karena beliau yang pidato, sekarang jadi Presiden, maka saya yakin Pak Prabowo punya cara agar Indonesia tidak bubar,” yakinnya.
Mahfud juga dapat pertanyaan soal efisiensi. Bagi Mahfud, asal efisiensi tidak menyasar pelayanan dasar rakyat, dia mendukungnya.
“Kita setuju, Pemerintah harus efisiensi. Sejak Orde Baru, bocor 30 persen. Tetapi efisiensi ini jangan menyasar pelayanan dasar. Jangan sampai rakyat rugi, memberi makan tapi dengan memutus hubungan kerja,” ujarnya.
Mahfud pun menilai, aksi protes mahasiswa belakangan bentuk sayangnya kaum cendikia terhadap negara ini. Dia dan seluruh rakyat akan akan terus menagih statment Prabowo yang akan memberantas korupsi dan menegakan keadilan.
“Sejauh ini baru pernyataan. Penindakan belum terlihat. Saya sangat suka penegakan hukum kepada siapapun. Tetapi jangan sampai hukum dijadikan alat untuk kepentingan politik tertentu. Orang dekat dibiarkan, orang yang jauh dicari-cari. Semua harus diproses secara setara,” tuturnya.
Menyambung soal penegakan hukum, Mahfud pun meminta seluruh pihak percaya kepada kepolisian, yang belakangan ini dikritik habis. Diingatkan, kepolisian ini sangat penting bagi kelangsungan suatu negara. Polisi jangan dimusuhi, tapi harus ditemani, beri masukan dan kritik proporsional.
“Kalau polisi mogok, bahaya. Yang jahat dan nggak bener kan atas-atas saja. Polisi di bawah, yang jaga acara kita ini, yang di daerah, banyak yang baik,” pesannya.
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) Prof. Topo Santoso berharap, acara seperto podcast Goes To Campus ini bisa dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran. “Berbanggalah UI ini kampus pertama. Acara ini memberi kesempatan civitas akademika bertanya langsung kepada Prof. Mahfud MD,” ujarnya.
