Pemecatan pelatih timnas sepak bola Indonesia, Shin Tae Yong, menuai reaksi keras dari penggemar bola, terutama pendukung STY. Pengamat dari Save Our Soccer, Akmal Marhali menilai, suporter kita memang sudah harus move on karena memikirkan masa depan sepak bola Indonesia jauh lebih penting dari itu.
“Pertama kita harus move on, utamanya suporter sepak bola Indonesia, move on bahwa Shin Tae Yong sudah meninggalkan cerita yang bagus, kita harus menatap ke depan, jangan sampai selalu dikaitkan Shin Tae Yong,” kata Akmal dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kamis (09/01/2024).
Apalagi, ia mengingatkan, beban pelatih timnas yang baru, Patrick Kluivert, akan sedikit lebih berat karena dia akan berada di bayang-bayang Shin Tae Yong. Sekalipun Kluivert nantinya sukses, Akmal menilai, dia akan dikatakan oleh publik meraih kesuksesan karena bangunan yang sudah dibangun Shin Tae Yong.
Tapi, ketika Kluivert tidak sukses akan mendapatkan cibiran karena publik akan membandingkan raihannya dengan Raihan Shin Tae Yong. Menurut Akmal, beban yang akan ditanggung dari penggemar sepak bola, terutama pendukung STY, tidak hanya akan menyasar kepada Kluivert, tapi kepada Erick Thohir dan PSSI.
“Beban itu akan sampai ke Ketua Umum PSSI, jadi sebenarnya bebannya Kluivert ini ditanggung oleh Ketua Umum PSSI juga pada akhirnya, dan resiko-resiko ini sudah harus dipikirkan PSSI juga,” ujar Akmal.
Untuk Kluivert, Akmal menyarankan, tugas pertama yang perlu dilakukan dia harus segera beradaptasi dan belajar apa saja masalah-masalah yang ada di Shin Tae Yong agar tidak terulang di era kepemimpinannya. Salah satunya tidak lain masalah komunikasi yang pada era STY memang benar-benar jadi masalah besar.
“Masalah komunikasi, PR saya sih kalau dia datang ke sini, Patrick Kluivert pertama kali salaman saya akan katakan Anda harus bisa Bahasa Indonesia dalam waktu satu bulan, minimal bahasa-bahasa sehari-hari,” kata Akmal.
Kedua, lanjut Akmal, dia harus bisa segera mempelajari karakter masing-masing pemain Indonesia agar tidak lagi ada salah sangka. Akmal mencontohkan, ada pemain-pemain seperti Marcelino yang memang suka bercanda, dan jangan sampai candaan-candaan malah diseriusi, dambil hati dan jadi masalah besar.
Di sisi lain, bagi Akmal, pemain harus mencoba memahami budaya pelatih baru. Beruntungnya, Kluivert datang dari Negeri Kincir Angin, Belanda, yang secara budaya cukup dekat dengan Indonesia. Ditambah, sosok mantan bintang Ajax, Barcelona, dan AC Milan itu sebagai pemain memang sudah banyak dikenal.
Akmal mengingatkan, dalam sejarah sepak bola kita ketika ada pemain-pemain datang bermain selalu saja diajari bahasa-bahas yang kotor oleh pemain Indonesia. Menurut Akmal, budaya seperti itu harus disudahi agar baik pemain maupun pelatih asing yang datang, bisa belajar Bahasa Indonesia secara baik dan benar.
Selain itu ia menambahkan, PSSI sebagai federasi sepak bola Indonesia harus bisa menjadi jembatan dan menjembatani antara pemain dan pelatih. Artinya, masalah-masalah yang terjadi di era kepemimpinan Shin Tae Yong jangan sampai terjadi di era kepemimpinan Patrick Kluivert agar sepak bola kita bisa maju.
“Jangan sampai itu yang terjadi kepada pelatih, ini juga pemain kita harus bisa tata krama sopan santun adab, pemain harus belajar juga budaya pelatih baru kita. (PSSI) harus menjembatani, jangan sampai komunikasi yang tersumbat di era Shin Tae Yong tersumbat lagi (di era Kluivert),” ujar Akmal. (*)
