Mantan Menkopolhukam, Mahfud MD, mengungkapkan sisi lain dari salah satu sahabatnya yang selama ini dikenal jenaka, yaitu Basuki Hadimuljono. Ternyata, Mahfud mengatakan, sosok mantan Menteri PUPR itu memiliki sisi spiritual yang jarang diketahui orang dan filosofi yang begitu mendalam tentang hidup.
Mahfud dan Basuki yang sama-sama lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) memang kerab bersama untuk urusan pekerjaan. Suatu waktu, di salah satu sudut Istana Bogor, tepatnya jelang rapat kabinet bersama menteri-menteri lain, Mahfud dan Basuki duduk berdua dan membicarakan tentang hidup.
“Pak Bas cerita-cerita tentang kegiatan kita, sampailah pada satu cerita kalau Pak Bas itu, Pak Mahfud katanya, bagi saya kebahagiaan itu adalah manakala saya bisa bahagia melihat orang lain bahagia, dalam banget kan, dalam sekali, jadi dia bahagia kalau melihat orang bahagia,” kata Mahfud dalam acara Ruang Sahabat dengan tamu Basuki Hadimuljono di kanal YouTube Mahfud MD Official, Jumat (20/12/2024).
Walau berbeda generasi di UGM, Mahfud angkatan 78 dan Basuki Angkatan 78, keduanya hanya berjarak usia empat tahun. Tidak heran, keduanya ketika sama-sama menduduki posisi menteri kerap bersama. Mahfud menilai, sisi spiritual itu dilengkapi pribadi Basuki yang selalu bergurau, senang dan tanpa beban.
Hari ini, pandangan itu dirasa cukup unik mengingat banyak orang yang sedih ketika melihat orang lain merintih dan malah bersyukur ketika melihat orang lain tersungkur. Namun, tidak bagi Basuki. Mahfud berpendapat, Basuki orang yang memiliki pengkhayatan keagamaan yang sangat tinggi dan substantif.
“Tapi kan banyak nih katanya sifat orang Indonesia sekarang itu sedih kalau melihat orang maju, bersyukur kalau lihat orang tersungkur, kalau Pak Bas itu filosofinya bahagia kalau saya melihat orang lain bahagia,” ujar Mahfud.
Mahfud turut membagikan cerita mengharukan yang harus dilalui Basuki di Colorado, AS. Salah satunya ketika beasiswa terlambat tiba, namun beasiswa rekannya di sana sudah lebih dulu sampai. Walau sama-sama sulit, Basuki menolak bantuan rekannya itu dan mempersilakannya menikmati bersama keluarga.
“Suatu saat teman saya datang duluan beasiswanya, cair duluan, saya belum, lalu saya diajak, sudah Pak nanti sama saya yuk pakai uang saya dulu. Lalu Pak Bas, saya tidak usah dulu lah, kamu nikmati, orang itu pergi, Pak Bas menangis terharu karena melihat temannya yang selama ini susah, sedih karena tidak punya uang sekarang bahagia karena bisa rekreasi dengan keluarganya, itu cerita Pak Bas,” kata Mahfud.
Bagi Mahfud, apa yang dilakukan Basuki merupakan contoh Islam yang substantif. Dalam konteks dakwah, ia menekankan, mengkhawati agama memang tidak harus memakai ayat-ayat, menghafal Alquran, hafal surat-surat. Bahkan, di Jawa Timur, orang bisa mengkhayati Alquran, sekalipun tidak fasih Bahasa Arab.
“Dulu ada di Jawa Timur itu orang mau bilang ya hayyu ya qayyum, karena dia tidak bisa Bahasa Arab, bilang ya qayumu ya qayuku. Wolo wolo kuata, tapi meresap di hati, wolo wolo kuata itu apa, la haula wala quwwata, saya tidak ada daya upaya kecuali Allah. Ini yang ditunjukkan oleh Pak Bas, kalau dalam konteks dakwah itu disebut dakwah bil hal bukan dakwah bil lisan,” ujar Mahfud.
Sebaliknya, pada kesempatan itu Basuki sempat pula menyampaikan siapa sosok Mahfud yang sudah lama dikenalnya itu. Walau keduanya kini berada di Kagama, Basuki Ketua Umum PP Kagama dan Mahfud Ketua Dewan Pakar PP Kagama, ternyata dulu Basuki kerap melihat Mahfud tapi tidak berani untuk menyapanya.
Terlebih, lanjut Basuki, Mahfud memang sudah lebih dulu jadi figur publik. Namun, Basuki menegaskan, sejak keduanya saling menyapa di sebuah rumah makan mie di Yogyakarta sampai hari ini, Mahfud tidak pernah berubah, masih orang yang begitu bersih, bahkan bersihnya itu kerap membuat takut orang lain.
“Ada positif negatifnya kalau bersih, orang jadi takut sama beliau,” kata Basuki. (*)
