Gubernur Jawa Timur terpilih dan orang kepercayaan Presiden KH Abdurrahman Wahid, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan salah satu pesan Gus Dur yang disampaikan sebelum wafat. Pesan itu disampaikan tiga kali, yaitu 2 tahun sebelum wafat, 2 bulan sebelum wafat, dan 9 hari sebelum wafat.
“Beliau pesan nanti kalau beliau wafat di batu nisannya ditulisi the Humanist Died Here, saya bilang jangan Gus Dur, umur panjang Gus Dur, pesanku mba, nanti ditulisi the Humanist Died Here, maka pada saat itu saya sampaikan ini kita kebetulan podiumnya bersebelahan dengan makam Gus Dur, pesan beliau adalah the Humanist Died Here,” kata Khofifah dalam acara Ruang Sahabat di kanal YouTube Mahfud MD Official, Jumat (13/12/2024).
Khofifah sendiri hampir tidak pernah absen menghadiri haul-haul Gus Dur setiap tahunnya, baik yang digelar di Ciganjur maupun di Tebuireng, kecuali tahun lalu. Namun, pesan itu baru disampaikan pada haul kelima dan kebetulan narasumbernya merupakan orang kepercayaan lainnya dari Gus Dur, Mahfud MD.
Tepatnya, ketika Khofifah diminta memberikan sambutan yang sebelumnya tidak pernah mau jika diminta sambutan dalam haul-haul Gus Dur. Namun, saat itu di Tebuireng, Khofifah bersedia karena sudah diminta Gus Solah dan sambutan disampaikan di podium yang posisinya tepat bersebelahan makam Gus Dur.
“Saya kemudian bersedia sambutan ringan dan pendek, podiumnya itu persis bersebelahan makam Gus Dur. Ini tahun kelima, karena podiumnya persis bersebelahan dengan Gus Dur, maka pesan Gus Dur saya mencoba memberanikan menyampaikan karena kalau tidak jangan-jangan Gus Dur marah kepada saya,” ujar Khofifah.
Beberapa hari setelah itu, barulah batu nisan Gus Dur dituliskan, seperti yang bisa dilihat sekarang, ada tulisan Here, Rest a Humanist. Menurut Khofifah, Gus Dur memang sudah berpesan kalau dia lebih senang dikenang sebagai seorang yang humanis, dibandingkan pluralis yang sebenarnya ada di paying humanis.
“Saya ingin menyampaikan bahwa Gus Dur lebih senang disebut Bapak Humanis, Bapak Kemanusiaan, bukan bapak pluralis, karena pluralism ada di bawah payung humanism, pada posisi perlindungan hak-hak minoritas, itu humanism yang ada di situ, pluralism juga ada di dalam paying humanism,” kata Khofifah.
Khofifah mengingatkan, sisi pernghormatan kemanusiaan, perlindungan atas hak-hak dan martabat kemanusiaan memang selalu menjadi konsen Gus Dur dari sekian banyak perjuangan Dus Dur. Baik melalui dakwah-dakwah keagamaan maupun lewat seni karena beliau pernah jadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta.
Selain itu, lanjut Khofifah, penghormatan terhadap kemanusiaan dan perlindungan atas hak-hak kemanusiaan dilakukan melalui gerakan-gerakan perjuangan dan politik Gus Dur. Gus Dur senantiasa memberikan penguatan dan komitmen yang luar biasa terhadap perlindungan kemanusiaan.
“Tidak sekadar statement, kata-kata, tapi gerakan beliau, aktivitas beliau, itu memang menempatkan perlindungan kemanusiaan, ada pada mainstream dari berbagai gerakan-gerakan beliau,” ujar Khofifah.
Gus Dur atau yang bernama lengkap KH Abdurrahman Wahid merupakan Presiden ke-4 RI yang menjabat sejak 20 Oktober 1999 sampai 23 Juli 2001. Gus Dur lahir di Jompang, 7 September 1940 dan meninggal dunia di Jakarta pada 30 Desember 2009. Karenanya, Desember selalu dikenang sebagai bulan Gus Dur.
Setiap tahun pada bulan Desember, Haul Gus Dur selalu digelar baik di Ciganjur maupun di Tebuireng. Haul Gus Dur selalu dihadiri keluarga, kerabat, sahabat, serta orang-orang terdekat maupun masyarakat luas yang mengagumi, meneladani, merindukan, dan ingin terus mengenang sosok hebat bernama Gus Dur. (*)
