Tokoh Madura, Islah Bahrawi, turut mengomentari pengunduran diri Miftah Maulana Habiburrohman atau Gus Miftah dari Utusan Khusus Presiden. Untuk sosok pengganti, Islah berharap, Presiden Prabowo dapat memilih sesuai dengan job desk, yaitu dalam bidang toleransi karena itu penting sebagai perekat bangsa.
“Jadi, jangan sampai diganti oleh orang-orang yang intoleran, orang-orang yang radikal, ekstrim, apalagi punya residensi dengan gerakan-gerakan kekerasan atas nama agama, jadi yang super kanan itu jangan sampai ditempatkan di sini,” kata Islah dalam acara Sate Demokrasi di kanal YouTube Mahfud MD Official, Rabu (11/12/2024).
Islah merasa, kasus Miftah merupakan satu dari sekian banyak kasus yang sebenarnya kerap dilakukan penceramah-penceramah, termasuk dan terutama penceramah agama. Apalagi, kebutuhan penceramah tampil sebagai sosok yang lucu dan kerap kali membuat mereka mengesampingkan substansi ceramah.
“Saya kira ini fenomena dari banyak penceramah hari ini, banyak penceramah yang kemudian menurut saya tidak ada bedanya dengan comedian stand up, komika, hanya ada sedikit religion flavour, hanya ada bumbu agama saja bedanya,” ujar Islah.
Islah berpendapat, secara job desk sebenarnya Miftah sudah sesuai substansi dan sesuai keahlian karena menjadi Utusan Khusus Presiden bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan. Sebab, selama ini Miftah memang dikenal sebagai sosok yang ingin membangun toleransi dan hal-hal terkait itu.
Maka itu, ia berharap, siapapun nantinya yang dipilih mengganti Miftah merupakan orang yang memang berkecimbung dalam pembangunan toleransi, bukan sebaliknya. Bagi Islah, kejadian ini harus pula menjadi pembelajaran tidak cuma bagi Miftah, tapi bagi setiap orang, termasuk penceramah-penceramah agama.
“Saya kira masyarakat mulai hari ini, mulai kejadian ini, mari ajarkan masyarakat dengan pemahaman agama yang benar,” kata Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (DIM) tersebut.
Pengamat komunikasi pembangunan, Zaim Uchrowi menyayangkan, hari ini pendidikan kita tidak lagi menekankan sopan santun sebagai nilai-nilai yang harus ditanamkan. Sebab, ia merasa, peristiwa Miftah merupakan salah satu produk lemahnya sopan santun, yang ditambah marak fenomena media sosial.
Menurut Zaim, fenomena media sosial seperti memaksa orang harus tampil, dan perlu tampil melalui cara masing-masing yang ternyata terus menguat karena cara itu terbukti terus berhasil. Tapi, ia meyakini, kasus Miftah sebenarnya menjadi momentum pendewasaan tentang pentingnya sopan santun tersebut.
“Saya malah melihat ini bagian dari pendewasaan masyarakat secara keseluruhan, jadi pada titik tertentu ada bentrok tadi ya, tapi tidak akan kemudian melebar menjadi sesuatu yang negatif sekali,” kata Zaim.
Mantan jurnalis Tempo dan Republika itu menilai, sejak 10 tahun lalu kita semua telah mengalami demam media sosial dan masih terpana hal-hal yang baru. Tapi, ia percaya, akhirnya akan ada satu kedewasaan, sekalipun ada tantangan untuk mempercepat kedewasaan itu agar kondisi hari ini tidak berkepanjangan.
Bagi Zaim, pendidikan karakter seperti budi pekerti yang selama ini cukup terabaikan bisa jadi salah satu kunci mempercepat pendewasaan itu. Zaim turut memberikan pesan khusus ke Miftah dan penceramah-penceramah agama agar tidak menomorsatukan gimik-gimik, apalagi sampai mengabaikan sopan santun.
“Dan sama-sama diingat bahwa gimik dalam ceramah itu penting, tapi jangan menonorsatukan gimik karena kalau ini dinomorsatukan tidak lama, mungkin akan cepat melejitkan tapi durasinya tidak akan. Mari pakai gimik sewajarnya, jangan sampai itu dinomorsatukan, karena begitu dinomorsatukan percayalah tidak akan lama, akan tersandung,” ujar Ketua Yayasan Karakter Pancasila tersebut. (*)
