Mantan Menteri Pertahanan era Presiden Gus Dur, Mahfud MD, mengungkapkan pertentangan Gus Dur dengan DPR atau partai-partai politik yang membuat Gus Dur pada akhirnya jatuh. Antara lain ketika DPR menuduh Gus Dur korupsi Bulog, sekalipun sudah dijelaskan Jaksa Agung kalau tuduhan itu tidak benar.
Bahkan, ketika di pengadilan tuduhan itu sama sekali tidak terbukti, DPR tetap keluarkan memorandum. Akhirnya, dalam satu acara pertemuan oleh Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKSPTIS) Gus Dur marah, menyebut DPR seperti Taman Kanak-Kanak (TK) dan mengancam mengeluarkan Dekrit.
“Gus Dur itu marah waktu itu, bicara, kalau DPR tetap seperti Taman Kanak-Kanak seperti sekarangm saya akan keluarkan Dekrit membubarkan DPR,” kata Mahfud dalam acara Ruang Sahabat dengan tamu Khofifah Indar Parawansa, yang tayang di kanal YouTube Mahfud MD Official, Jumat (6/12/2024).
Selain Menhan, kala itu Mahfud hadir karena sebagai Wakil Ketua BKSPTIS. Kaget mendengar kemarahan Gus Dur, Mahfud bergegas ke rumah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang waktu itu Menkopolsoskam untuk mencegah dan melakukan langkah-langkah antisipasi. Akhirnya, digelar rapat di kantor Polsoskam.
Hadir mulai dari Panglima TNI, Kapolri, Kepala-Kepala Staf, Menteri Luar Negeri, Menteri Kehakiman dan lain-lain. Dari semua yang hadir, hanya ada dua orang yang setuju Gus Dur mengeluarkan Dekrit yaitu Menteri Luar Negeri, Alwi Shihab dan Menteri Kehakiman, Baharudin Lopa. Sisanya, tidak sependapat.
Mahfud sendiri menjelaskan kalau itu bukan soal melanggar atau tidak, tapi ekstra-konstitusional yang jika ditaati kalau bisa dipertahankan secara politik. Contohnya, Bung Karno yang didukung TNI, sehingga mulus. Sayangnya, Mahfud menyampaikan, saat itu secara politik Gus Dur tidak mendapatkan dukungan.
“Saya bilang Gus dDr sekarang tidak didukung, hanya dua orang dalam rapat kabinet saya bilang begitu. Enggak, semua dukung saya kok wong saya Presiden. Terus dasarnya apa Gus, saya sudah konsutltasi dengan Prof Harun Al Rasyid, itu penasehat Gus Dur bidang hukum tata negara, saya bilang saya tidak setuju, tapi akhirnya terjadi peristiwa Dekrit itu,” ujar Mahfud.
Tapi, ia menambahkan, sebelum jatuh Gus Dur menugaskan dirinya, Khofifah dan Alwi Shihab untuk menemui pimpinan partai politik. Bertemulah mereka di rumah Bendahara Golkar, MS Hidayat. Hadir Taufik Kiemas dan Sekjen PDI, Hamzah Haz dan Sekjen PPP serta Akbar Tanjung ditemani Sekjen Golkar.
Pertemuan menyepakati Gus Dur tidak perlu jatuh, tapi diminta berkompromi dan merombak kabinet dengan diisi orang-orang yang diusulkan partai-partai. Dengan keputusan itu, Mahfud, Khofifah dan Alwi diminta menyampaikan ke Gus Dur. Akhirnya, Mahfud mengajak Menakertrans dari PAN, Hilal Hamdi.
Tapi, ternyata Gus Dur begitu tangguh. Gus Dur, tetap pada komitmen tidak mau berkompromi dengan partai-partai politik hanya untuk mengamankan posisi. Kepada Mahfud, Gus Dur menegaskan, tidak akan takluk terhadap parpol dan tidak akan tunduk kepadaDPR yang tetap disebutnya Taman Kanak-Kanak.
“Gebrak meja Gus Dur, tidak bisa, kita harus membuat fakta baru, tidak boleh tunduk kepada fakta. Ingat tidak kamu, kita jatuhkan Pak Harto melawan faktanya Pak Harto, kita lawan, kata Gus Dur. Akhirnya, Gus Dur terus melangkah, tidak mau merombak atas usul partai, di DPR semakin panas, keluarlah Maklumat itu, Maklumat, Dekrit sebenarnya. Itulah, Gus Dur jatuh tanpa alasan konstitusional,” kata Mahfud. (*)
