KAMI, itulah singkatan dari Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia, akhirnya mengibarkan bendera deklarasi di Tugu Proklamasi, Selasa 18 Agustus 2020. Dari sisi nama, telah tergambar maksud serta tujuan di balik komunitas yang ditopang oleh tokoh-tokoh papan atas yang selama ini dikenal cukup kritis terhadap pemerintahan Jokowi, seperti Din Syamsuddin, Gatot Nurmantyo, Rocky Gerung, Said Didu, Refly Harun, Ahmad Yani hingga Ichsanuddin Noersy, dan Prof. DR Rochmat Wahab.
Dari sisi nama pula, kata “KAMI” juga mengingatkan tentang nama serupa yang lahir pada tahun 1965 yakni Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Organ komunitas mahasiswa tempo dulu yang banyak dimotori aktivis mahasiswa yang berhaluan kanan seperti PMII, HMI, dan PMRI itu disatukan semangat untuk mengganyang PKI (G30S-PKI).
Selain ketiga Organ tersebut, sebetulnya GMNI juga “terpaksa ikut” mendirikan KAMI, kendati akhirnya non aktif. Dalam tubuh KAMI, GMNI menjadi minoritas karena organ mahasiswa yang dianggap berhaluan kiri seperti CGMI Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia, Gerakan Mahasiswa Indonesia (GERMINDO) dan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PERHIMI) tidak dilibatkan secara aktif dalam proses kelahiran KAMI.
Apa bedanya KAMI ’65 dengan KAMI ’20? Kalau KAMI yang dulu itu didirikan oleh kalangan mahasiswa yang masih sarat dengan idealisme dengan tujuan utama ganyang PKI. Kalau KAMI ’20 itu digerakkan oleh tokoh-tokoh yang dikenal cukup kritis terhadap Jokowi seperti Prof DR Din Syamsuddin dan Jendral (Pur) TNI Gatot Nurmantyo.
Kesamaan dari kedua KAMI tersebut yakni sama-sama kritis terhadap Presiden RI yakni Soekarno (1965) dan Jokowi (2020), tapi KAMI ’20 oleh sebagian pengamat juga dianggap sebagai gerakan pemanasan menuju Pilpres 2024. Dalam alam demokrasi, kehadiran KAMI menjadi penghangat politik nasional yang akhir-akhir ini senyap akibat Lockdown Pandemi Corona.
Kesan politis dari KAMI ’20 ini tak bisa dihindari karena sebagian aktor dari mereka adalah para mantan pendukung & simpatisan Capres (02) Prabowo Subianto. Apakah gerakan ini akan ‘happy ending’ dengan pengajuan Din Syamsuddin & Gatot Nurmantyo dalam Piplres 2024? Itu soal lain, karena masih banyak prasyarat yang harus dipenuhi seperti partai politik pengusung.
Setidaknya, mereka telah berhasil mendaftarkan keduanya sebagai figur alternatif 2024. Kendati belum punya partai, tapi Gatot pernah berseloroh bahwa dia cukup dekat salah seorang taipan naga sembilan, Tomy Winata. Pengusaha ber-etnis Tionghoa ini merupakan tokoh papan atas yang sudah banyak terlibat dalam perhelatan politik nasional.
Namun, di tengah hiruk-pikuk genderang yang ditabuh Din dan Gatot ini ternyata tidak banyak melibatkan kelompok sebelah kanan seperti FPI, komunitas 212 serta eks HTI yang telah bermetamorfosis ke berbagai wadah itu.
Kenapa hal ini bisa terjadi? Padahal mereka biasanya selalu berjamaah dalam mengkritisi Presiden Jokowi. Ada yang menduga, perbedaan pilihan figur menjadi unsur dominan yang menjadikan FPI Cs tidak hadir dalam perhelatan tersebut. Sehingga menjadi wajar jika dalam acara deklarasi ini KAMI ini tak ada kibaran umbul-umbul bertuliskan kalimat Tauhid (Lailaha Illa Allah). Sebaliknya, menjelang deklarasi KAMI ini justru beberapa sudut kota diwarnai baliho besar-besaran dari Pimpinan FPI Habib Rizieq Syihab (HRS) yang ikut menyemarakkan HUT RI ke-75.
Selain tidak hadirnya eksponen FPI dan konco-koncomya, juga absennya Rizal Ramli patut jadi catatan karena selama ini mantan Kabulog era Presiden Gus Dur itu mewakili corak tersendiri. Tokoh Ormas Islam selain Din Syamsuddin, nyaris tidak terlihat dalam forum tersebut kecuali Ketua Komite Khittah NU ’26 (KKNU) Prof. Rochmat Wahab yang baru didaulat menggantikan posisi Gus Sholah di KKNU.
Bahkan Gus Aam (H Solachul Aam Wahib Wahab, Tambakberas) yang notanene cucu pendiri NU itu pun hanya diberi peran membaca doa. Meski belum berhasil secara optimal merangkul para pihak yang berbasis massa elektoral, namun KAMI telah berhasil membangun gerbong baru untuk mengkritisi Pemerintahan Jokowi.
Kendati begitu, kehadiran Titiek Soeharto juga mencerminkan interest politik tertentu yang mewakili trah Cendana. Kendati berbagai asumsi tentang kekuatan Cendana ini belum menunjukkan hasil memuaskan, termasuk gagalnya Partai Berkarya dalam mengikuti laga perpolitikan nasional, namun ‘bumbu Cendana’ selalu punya magnit tersendiri.
Apalagi dalam acara tersebut juga hadir sejumlah ‘alumni Baret Merah’ alias Kopasus TNI AD di Tugu Proklamasi ini. Sehingga makin menambah berbagai spekulasi kekuatan politik ke depan. Bahkan ada rumor, kelompok ini juga tengah menjajaki berbagai kemungkinan akselerasi gerakan seperti Cabut Mandat Presiden Jokowi. Apalagi kalangan yang kecewa dengan Presiden Jokowi juga terus bertambah seiring dengan langkah-langkah politik yang diambil sang Presiden.
Yang jadi pertanyaan, apakah KAMI ’20 ini menjadi sinyal terjadinya koalisi politis kekuatan semi kanan dengan kekuatan para mantan TNI plus Cendana? Jika didramatisasikan, apakah ini menjadi pertanda terjadinya perebutan pengaruh politis antara TNI dengan Polisi dalam kontestasi Pilpres mendatang? Tentu masih banyak pengandaian bisa terjadi dan melebar kemana-mana. Yang pasti, semua jargon yang mereka sodorkan adalah untuk rakyat dan kejayaan NKRI, termasuk dari mereka yang selama ini rajin menawarkan ideologi di luar Pancasila & UUD ’45. Namun, sejarah selalu berulang meski aktornya silih berganti berulangkali dan nasib rakyat selalu banyak diwarnai nestapa.
Kenapa bisa begitu? Karena para aktor politik itu terlihat sangat idealis ketika masih menyandang status sebagai calon, tapi acapkali semua itu jadi sirna jika sudah berkuasa karena kesibukan baru seperti kegiatan kapitalisasi kekuasaan untuk berbagai kepentingan pragmatis.
