Jadi begini, 7 tahun lalu saya mengikuti acara workshop kebencanaan di wilayah DAS Bengawan Solo. Dalam acara itu dibahas mengenai beberapa hal yang harus dilakukan dalam menghadapi bencara diantaranya mitigasi bencana, penanganan dampak bencana dan beberapa hal lain termasuk satu hal yang disebut “Living harmony with disaster” atau hidup berdamai dengan bencana.
Mengapa harus berdamai? Karena ada situasi-situasi yang membuat bencana tidak bisa dilawan atau situasi dimana penanganan bencana butuh waktu yang panjang. Seperti misalnya banjir di Jakarta, dengan melakukan normalisasi kali saja butuh waktu bertahun tahun untuk mengatasi banjir apalagi dengan melakukan naturalisasi entah berapa tahun selesainya. Dalam waktu itu bencananya gak bisa dimohon dengan hormat jangan datang dulu. Jadi dengan kata lain pasti terjadi. Ini lebih rumit lagi kalau bicara daerah rawan gempa seperti di Taiwan, mau sampai lebaran kuda gempa itu gak akan bisa dicegah. Disinilah pentingnya “Harmony with disaster” karena melarang gempa bumi atau melarang banjir tanpa normalisasi itu seperti melanggar sunatullah.
Berdamai dengan Corona hari ini adalah pilihan terbaik bagi Indonesia. Mengapa? Sebagai negara dengan jumlah penduduk ke 4 terbesar di dunia, kita tak semudah Vietnam atau Malaysia untuk nekat bertarung secara jantan melawan Corona. Kecuali kalau kita punya sumberdaya dan sumberdana sekuat Cina yang banyak duit, kuat teknologinya, kuat masyarakatnya dan pemerintah mengontrol penuh kehidupan masyarakat selayaknya negara komunis. Sebab untuk memberlakukan karantina total harus disiapkan betul tidak hanya pemenuhan pangan saja tetapi juga dampak dari tutupnya industri di seluruh negeri. Kita bisa melihat negara berpenduduk besar seperti India yang nekat ngajak kelahi Corona, bukannya selesai urusan malah sekarang India menjadi episentrum baru corona di Asia. Disaat dengan gagah pemerintah India menetapkan lockdown disaat yang sama rakyatnya kesulitan kebutuhan, kehilangan pekerjaan dan nganggur. Ketika mereka mau pulang kampung kendaraan umum tidak ada. Akhirnya terjadilah gelombang besar pejalan kaki ratusan kilo meter yang malah jadi lahan subur pemyebaran corona. Bukan pemberantasan virus yang didapat tapi malah virusnya berkembang cepat.
Untuk melawan corona tidak hanya persiapan masalah ekonomi saja. Pemerintah harus melakukan test kepada masyarakat seperti di Vietnam. Persoalannya rakyat kita ini 240 juta dan wilayah kita ini kepulauan. Pemilu yang di negara lain 2 hari ngitungnya selesai saja di tempat kita hampir sebulan karena luas wilayah dan terpisah-pisahnya lokasi antar daerah. Kalau mau nge-test corona tentu pemenuhan logistiknya butuh waktu apalagi pelaksanaanya tentu tak secepat di Thailand atau Korea Selatan.
Sebab itu maka Corona harus dilawan. Tetapi mengertilah bahwa negara kita ini negara unik. Masyarakatnya banyak, wilayahnya luas, geografisnya terpencar-pencar plus orangnya angel ditoto. Maka perlu waktu yang lebih panjang untuk memenuhi segalanya. Di saat pemenuhan sedang berlangsung kita gak mungkin pasang pengumuman “CORONA DILARANG MASUK”. Maka satu-satunya pilihan adalah menerapkan pola hidup yang tepat, tatacara pergaulan sosial yang baik dan pemenuhan protokol kesehatan oleh semuanya. Itulah yang disebut dengan “BERDAMAI DENGAN CORONA”.
