Meradang Soroti Peredaran Uang di Muktamar, Islah Sebut NU Sedang Diuji Tingkah Elitnya

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di YouTube Terus Terang Media, Sabtu (03/10/2026). Foto: Wahyu Suryana
Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di YouTube Terus Terang Media, Sabtu (03/10/2026). Foto: Wahyu Suryana

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, menyampaikan keprihatinan atas berita yang berkembang tentang Nahdlatul Ulama (NU) belakangan. Terutama, melihat tingkah elit-elit NU di Muktamar Jombang yang disebut malah menurunkan nilai-nilai dari NU itu sendiri.

“Saya hampir kehabisan kata-kata kalau melihat tingkah-tingkah dari orang yang kemarin ternyata ada guliran uang. Belum lagi dihubung-hubungkan dengan tindakan-tindakan koruptif para pejabatnya dan kemudian aliran uang itu mengalir kepada kyai-kyai yang selama ini saya takdzimi,” kata Islah kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Berani di YouTube Terus Terang Media, Sabtu (03/10/2026).

Jika begitu, Islah mempertanyakan fungsi dari NU ketika malah diselewengkan untuk keinginan-keinginan pribadi, bahkan kepentingan-kepentingan politik. Karenanya, ia berharap, semua bisa mengembalikan hati nuraninya dalam rangka menyelamatkan NU.

“Saya betul-betul terhenyak, sakit rasanya. Saya pribadi, bisa dikonfirmasi kepada siapapun di pondok-pondok pesantren dan insya Allah semua orang Nahdliyin secara kultural maupun secara struktural kenal. Karena saya memang tidak pernah berhenti hampir setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, bertahun-tahun selalu datang ke pesantren memberi gambaran-gambaran tentang betapa kuatnya NU terhadap negara ini,” ujar Islah.

Ia menilai, NU merupakan kekuatan yang luar biasa bagi dunia yang toleran untuk peradaban manusia ke depan. Karenanya, Islah menekankan, NU seharusnya tidak boleh lagi terjebak dalam perdebatan-perdebatan yang remeh, apalagi masalah seperti ini.

NU, lanjut Islah, selalu dihantarkan sebagai poros tidak cuma dalam kebangsaan kita tapi dalam dunia dan peradaban manusia. Ironisnya, ia menyayangkan, tingkah dari elit-elit NU di Muktamar Jombang benar-benar membuatnya menangis melihat NU.

Islah menyoroti ketika saling tuding terjadi, disusul tudingan aliran uang mulai dari sekian ribu dolar sampai sekian miliar rupiah yang beredar. Bahkan, sudah ada yang mengklarifikasi, yang semua malah semakin menonfirmasi peristiwanya terjadi.

“Tapi, pengembalian uang terjadi. Artinya apa? Memang uang itu ada untuk pembelian suara di dalam muktamar itu. Ahlul halli wal akhdi, sebanyak 9 orang yang dibentuk dalam forum muktamar kemarin, saya pikir adalah orang-orang yang punya integritas. Tapi, ternyata betul apa yang pernah dikatakan oleh Erros Djarot, titik lemahnya orang-orang NU itu satu, ketika dia ditawari uang, langsung lemah seketika, miris,” kata Islah.

Ia menambahkan, orang-orang NU biasa mengaji berbagai kitab, mempelajari irsyadul ibad, bicara soal Imam Al Ghazali, bicara soal Ibnu Rusyd, atau menikmati tasawuf. Tapi, Islah menyayangkan, semua hancur karena keinginan dan kepentingan pribadi.

“Karena keinginan-keinginan pribadi dan guliran-guliran uang dalam sebuah forum untuk menentukan keputusan muktamar. Ini saya minta sekali lagi kepada kalangan elit NU, tolong selamatkan organisasi ini, jangan pernah membajak jubah-jubah kesalehan dan jubah-jubah Nahdliyin hanya untuk kepentingan pribadinya. Wallahi, kita tidak mau NU ini hanya menjadi tunggangan-tunggangan politik,” ujar Islah.

Islah berharap, NU menjadi motor mencintai negara, bukan jadi penjilat-penjilat material, uang, dan kekuasaan. Ia merasa, Gus Dur sudah memberi contoh mengatasi hambatan, gangguan, dan kecurigaan terhadap NU dan itu harusnya jadi pelajaran.

“Hari ini, NU betul-betul sedang diuji oleh berbagai tingkah para elitnya yang kemudian sibuk untuk memperkaya diri. Saya tidak ingin menuduh siapapun di sini, tapi tolong kembalikan hati nurani kita itu. Janganlah kita kemudian berteriak di manapun, mengangkat nama muasis, memperdagangkan para founding fathers Nahdlatul Ulama, tapi kemudian kita ternyata hanya di mulut saja, tingkah kita tidak terjaga,” kata Islah.

Islah mengaku sudah kehabisan kata ketika NU dituding hanya orang-orang yang ingin mencari uang atas nama agama. NU, dituding tidak lagi menjaga fungsinya sebagai penjaga keragaman Indonesia dan penjaga Islam sebagai rahmat bagi peradaban.

“Saya mohon kepada kalangan elit NU, termasuk Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, saya minta tolong selamatkan NU dari berbagai tingkah bejat dan para bandit yang seolah-olah dia sayang NU, tapi sebenarnya adalah kerikil dalam sepatu. Mereka adalah para penggunting dalam lipatan yang hanya ingin mencari pundi-pundi uang atas nama Nahdlatul Ulama. Semoga orang-orang jahat yang memanfaatkan NU untuk memperkaya diri ini tidak mendapatkan barokah para muasis Nahdlatul Ulama,” ujar Islah. (WS05)