MBG Gunakan Argumen ‘Rakyat Lapar’ untuk Glorifikasi Satu Figur sebagai Juru Selamat

Aktivis dari MBG Watch, Annette Mau (kanan), dalam program Poker di YouTube Terus Terang Media, Rabu (30/09/2026). Foto: Wahyu Suryana
Aktivis dari MBG Watch, Annette Mau (kanan), dalam program Poker di YouTube Terus Terang Media, Rabu (30/09/2026). Foto: Wahyu Suryana

Aktivis perempuan dari MBG Watch, Annette Mau menegaskan, mereka tidak pernah menyatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak memiliki niat baik. Tapi, ia menekankan, sebagai kebijakan publik MBG seharusnya menaati prosedur pelaksanaan.

Artinya, ia menerangkan, sebelum kebijakan itu dilaksanakan harus ada kajian, harus ada riset, pilot project, simulasi, pemakaian anggaran yang dibahas bersama, serta melibatkan rakyat. Ia menyayangkan, yang ada malah politisasi argumen rakyat lapar.

“Kalau dilihat dari kebijakan publik, program ini sebenarnya memanfaatkan rakyat lapar itu untuk kemudian mengglorifikasi satu figur yang seakan-akan ingin diakui bahwa saya juru selamatnya rakyat lapar. Padahal, sebenarnya rakyat mempertanyakan 19 juta lapangan kerja yang digadang-gadang waktu kampanye,” kata Annette kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Poker di YouTube Terus Terang Media, Rabu (30/09/2026).

Ia mengingatkan, ketika janji 19 juta lapangan kerja bisa terealisasi, sebenarnya itu sudah menjadi solusi untuk rakyat lapar yang pelan-pelan bisa diminimalisir. Annette juga membantah argumentasi pemerintah soal program MBG menguntungkan UMKM.

Ironisnya, ia mengungkapkan, di titik-titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selalu saja yang diuntungkan kelompok masyarakat yang berada di lingkar kekuasaan. Bahkan, tidak ada warung-warung atau pedagang-pedagang sekitar yang dilibatkan.

“Dari hasil temuan kami di lapangan, di setiap titik lokasi SPPG, kalau kita tanya pedagang pasarnya, SPPG-nya ngambil dari kamu tidak? Tidak tuh. Di tiap titik SPPG kalau kita tanya pedagang ibu wartegnya, ada yang dilibatkan ke kamu tidak? Telur balado-nya deh warteg yang bikin, atau apa, tidak ada tuh, petani setempat tidak. Memang ada pemasok dari level warga atau mungkin komunitas pedagang diuntungkan, yang dekat dengan lingkaran elitnya. Jadi, kalau kamu kenal kepala daerah yang punya SPPG, kenal parpolnya, kenal ormasnya, kita tahu ormas juga punya, kenal anggota DPR-nya, pasti dijadikan rekanan. Tapi, di luar itu tidak,” ujar Annette.

Maka itu, ia menyebut, program ini lagi-lagi tidak menyentuh ekonomi kerakyatan, yang disentuh tetap mereka yang sebenarnya sudah kenyang. Jadi, argumentasi rakyat lapar hanya dimanfaatkan untuk mengenyangkan elit, tanpa menyentuh masalah utama.

Annette turut mengkritisi klaim MBG dalam rangka menyelesaikan stunting. Malah, ia merasa, itu merupakan penghinaan terhadap intelektualitas dan ilmu pengetahuan. Ini yang dinilai turut menjadi penyebab Indonesia menjadi bahan tertawaan warga dunia.

“Karena, sekali lagi, stunting itu hanya bisa diintervensi di 1.000 hari pertama kehidupan, sehingga anak yang sudah lahir dengan stunting tidak bisa disembuhkan. Jadi, stunting itu bukan kondisi penyakit kayak batuk pilek, stunting itu sebuah kondisi permanen, yang bisa dilakukan ketika anak sudah stunting membantu untuk memberikan dia gizi, intervensi, tapi tidak mengembalikan keadaan anak yang sudah stunting jadi tidak stunting. Karena, lagi-lagi dia bukan penyakit,” kata Annette.

Soal stunting, ia berpendapat, MBG menjadi sebuah alat yang terbukti sudah gagal. Ia menambahkan, dari seluruh penerima manfaat MBG, 82 juta merupakan siswa dan hanya sedikit yang ibu hamil. Ironisnya, ibu hamil turut menjadi korban keracunan.

Annette menyayangkan, ibu hamil dan balita yang seharusnya dilindungi malah jadi korban keracunan oleh program MBG. Jadi, bukan menyelesaikan masalah-masalah yang ada, ia merasa, kehadiran program MBG malah menimbulkan masalah-masalah yang baru.

“Karena, hadirnya ompreng-ompreng MBG di sekolah-sekolah, hadirnya ompreng-ompreng MBG di posyandu ketika diberikan kepada ibu hamil kan di posyandu, itu tidak akan selesaikan masalah jarak puskesmas ke tempat tinggal warga yang puluhan kilometer dan jalannya sangat buruk. Karena, lagi-lagi ibu hamil butuh untuk periksa berkala, butuh untuk hadir untuk kemudian mendapatkan bimbingan penyuluhan. Dalam soal gizi, kesiapan secara mental dan secara fisik, pemberian vitamin dan segala macam yang berlangsung di puskesmas. Hadirnya ompreng-ompreng MBG tidak akan pernah bisa menyelesaikan ibu hamil ini begitu miskin sampai tidak bisa makan cukup protein untuk pembentukkan otak bayi, otak janin ketika dalam kandungan,” ujar Annette. (WS05)