Transmisi Virus Corona Meningkat
Ketidakjujuran akan selalau membawa kerugian. Di masa pandemik masih banyak orang-orang yang tidak jujur terhadap dirinya sendiri. Kejujuran telah berpergian ke red zone (daerah terjangkit kasus corona), masih banyak yang disembunyikan sebagian orang. Lebih-lebih adanya persepsi,” Ah, saya tidak mungkin kena virus” pasca traveling ke daerah tersebut, menambah keleluasaan untuk bersikap biasa, dan berkumpul dengan orang lain.
Banyaknya aktivitas kurang penting di luar rumah terpotret media. Potret yang banyak disorot media ini merupakan cermin ketidakjujuran sebagian masyarakat, terhadap diri sendiri akan bahayanya dampak virus Sars-Cov-2, penyebab Covid-19. Sehingga mereka acuh akan himbauan pemerintah untuk tetap di rumah. Padahal hingga bulan kedua sejak masuknya virus corona ke Indonesia, sudah banyak peringatan dan himbauan dari pemerintah.
Kini sudah tercatat sebanyak 6.575 pasien terkonfirmasi positif covid-19 per 19 April 2020 di Indonesia. Terbukti sudah lama pergeseran transmisi dari virus corona di Indonesia. Awalnya adalah imported case menjadi transmisi lokal. Angka tersebut juga menjadi gambaran nyata peningkatan kasus corona di beberapa titik di Indonesia, sehingga pemerintah menerapkan aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).
Dokter dan Tenaga Kesehatan Positif Covid-19
Dokter, dan tenaga kesehatan seperti perawat, bidan, ahli tenaga laboratorium medis, dan lainnya sebagai garda terdepan dalam penanganan pasien covid-19. Ironisnya masih ada masyarakat yang hanya mengetahui peran mereka, namun tidak menaruh kepercayaan terhadap mereka dalam menangani virus mematikan ini.
Setiap dokter maupun perawat pasti terlebih dahulu melakukan pemeriksaaan, ketika pertama kali kontak dengan pasien, yang akan mencari pengobatan dan perawatan. Hasil dari pemeriksaan menjadi kunci untuk menentukan pengobatan, dan perawatan bagi pasien tersebut. Tetapi, masih ada sebagian masyarakat yang tidak mengindahkannya, bahkan memberikan jawaban yang tidak jujur terkait pertanyaan, yang mengarah pada covid-19.
Ketidakjujuran inilah penyebab sebagian dokter, dan tenaga kesehatan lainnya harus mengisolasi diri, bahkan hingga ada yang terkonfirmasi positif covid-19. Beberapa media saat ini sudah membenarkan ada sekitar 46 tenaga medis, dan tenaga kesehatan RSUP dr. Kariadi Semarang terkonfirmasi positif covid-19, yang salah satunya disebabkan ketidakjujuran pasien saat diminta keterangan, yang mengarah pada covid-19. Akhirnya, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar mengambil sikap untuk memfasilitasi proses isolasi mandiri di Hotel Kesambi Hijau terhadap dokter, dan tenaga kesehatan tersebut.
Sebagai seorang perawat, tentunya hal tersebut sangat saya sayangkan. Beberapa teman sejawat saya, yang berprofesi perawat di beberapa daerah, seperti Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Barat juga mengaku saat ini, sedang melakukan isolasi mandiri karena berstatus ODP. Status ODP mereka dapatkan dari pasien, yang tidak jujur saat pemeriksaan pada kedatangan pertama kali ke rumah sakit, dan akhirnya terkonfirmasi positif covid-19 saat sudah masuk ruang perawatan.
Perlu diketahui bahwa dokter dan perawat adalah tenaga kesehatan, yang biasanya pertama kali berhadapan dengan pasien baru di rumah sakit. Mereka yang pertama menerima pasien biasanya hanya mengenakan APD (Alat Pelindung Diri) standar, seperti masker bedah dan handscoon (sarung tangan), dikarenakan belum tegaknya diagnosa pasti dari gejala penyakit, yang dialami pasien. Berbeda dengan dokter dan tenaga kesehatan lainnya, yang berada di ruang perawatan isolasi dan khusus menangani pasien penyakit menular, seperti covid-19 yang mengenakan APD lengkap. Tentunya mereka akan lebih rentan terinfeksi oleh pasien positif covid-19 tanpa gejala, jika tidak dibantu kejujuran pasien dalam memberikan keterangan saat pemeriksaan.
Berkurangnya Pasukan Garis Depan
Salah satu alasan didirikannya Rumah Sakit Darurat Corona Wisma Atlet Kemayoran ialah sebagai antisipasi penyebaran virus Sars-Cov-2 yang tidak terbendung, dan tentunya tidak akan bisa ditangani oleh semua rumah sakit rujukan lainnya, yang ada di Indonesia. Pangdam Jaya, Mayjen TNI Eko Margiyono menyebutkan pembangunan Rumah Sakit Darurat Corona, juga sebagai skenario terburuk bila 8.000 orang positif corona di Indonesia. Nyatanya hingga menyentuh angka 6.000, jumlah pasien masih terus bertambah di atas 200 setiap harinya. Angka ini tidak sebanding dengan sumber daya di rumah sakit rujukan lainnya.
