GNPF Ulama, PA 212 dan FPI Bakal Demo di Dubes China, Ini Tuntutan Mereka

Sobri Lubis
Ketua Umum DPP FPI, Ahmad Sobri Lubis.

Inisiatifnews – Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI), Ahmad Sobri Lubis mengatakan bahwa pihaknya akan menggelar aksi unjuk rasa demi memprotes tindakan pemerintah China yang dianggap mendzolimi umat Islam etnis Uighur di Xinjian, China.

Aksi tersebut kata Sobri, akan dikonsentrasikan di depan Kedutaan Besar Republik Rakyat China (RRC) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pekan depan.

Bacaan Lainnya

“Kami mengecam tindakan kejam rezim komunis dan akan melakukan aksi pada Hari Jumat, 27 Desember 2019, pukul 13.00 WIB ba’da shalat Jumat,” kata Sobri dalam konferensi pers bersama GNPF Ulama, PA 212 dan FPI di Jakarta Timur, Jumat (20/12/2019).

Adapun tuntutan yang akan dibawakan di dalam aksinya nanti, Sobri mengatakan akan meminta dengan tegas kepada pemerintahan Joko Widodo dan KH Maruf Amin untuk bersikap tegas dalam kasus Uighur itu.

“Kami minta pemerintah Indonesia pro aktif dalam membantu dan mengurusi masalah pelanggaram HAM yang teejadi di xinjiang Uighur China, karena ini pelanggaran HAM berat,” ujarnya.

Apalagi kata Sobri, Indonesia adalah negara yang memiliki bangsa yang memeluk agama Islam terbesar di dunia. Ketika ada manusia khususnya Umat Islam teraniaya, maka sudah seharusnya Indonesia ikut membantu.

“Sebagai negara dengan mayorutas umat Islam berkewajiban menjaga ketertiban dunia bukan malah menolak utusan Uighur yang mau datang,” tandasnya.

Selain kepada pemerintan Indonesia, Sobri juga mengatakan bahwa aksinya itu juga bertujuan untuk meminta agar dunia internasional juga bersikap.

“Kami minta PBB agar turun tangan untuk menghentikan segala macam bentuk arogan yang terjadi di Xinjiang,” tutur Sobri.

Salah satu cara yang bisa diambil untuk membuktikan fakta-fakta bahwa ada kekerasan dan kejahatan pelanggaran HAM terhadap masyarakat Muslim etnis Uighur itu, kata Sobri adalah dengan datang langsung untuk mengecek camp-camp mereka.

“Cek langsung ke camp-camp yang disebut re-education sebagai penjara raksasa. Cek juga masyarakat Uighur yang berhasil ke luar,” tutupnya. []

Temukan kami di Google News.