Sukmawati Tersandung Dugaan Kasus Penistaan Agama (Lagi)

Inisiatifnews – Sukmawati Soekarnoputri tersandunh kasus dugaan penistaan agama lagi. Ia dituding membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan ayahnya, presiden pertama RI Soekarno. Sukmawati juga disebut membandingkan kitab suci umat Islam Al Quran dengan Pancasila.

Pernyataan Sukmawati yang kembali kontroversial ini dilontarkan saat ia menghadiri sebuah diskusi bertajuk ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’, Senin (11/11) di Gedung Tribrata, Darmawangsa, Jakarta Selatan.

Bacaan Lainnya

Dalam potongan video yang beredar, mulanya, dalam diskusi memperingati hari pahlawan tersebut, Sukmawati ngomongin perjuangan Indonesia terbebas dari kemerdekaan RI dari penjajah Belanda sembari melontarkan pertanyaan kepada forum.

“Mana lebih bagus Pancasila atau Al Quran? Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir Sukarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini,” ungkap Sukmawati kepada forum diskusi.

Awalnya, tak ada yang berani menjawab. Forum langsung hening. Dia kembali mengulang pertanyaan serupa kepada forum yang kebanyakan dihadiri mahasiswa itu. “Tolong jawab, silakan anak-anak muda. Saya mau tahu jawabannya. Enggak ada yang berani? Saya mau yang laki-laki, kan radikalis banyaknya laki-laki,” sebut dia.

Tak lama, seorang mahasiswa berdiri. “Saya Muhammad Takim Maulana, mahasiswa UIN Syarief Hidayatullah Jakarta Selatan. Memang benar pada awal ke 20 yang berjuang itu Ir Sukarno, nah…,” Belum rampung mahasiwa ini menjawab pertanyaan, Sukmawati memotong. “Oke, stop. Hanya itu yang Ibu mau tanya,” tandasnya.

Sukmawati pun melanjutkan orasinya. Kata dia, sebagai generasi penerus, wajar bila menghormati perjuangan para founding fathers. “Memangnya kita nggak boleh menghargai, menghormati, orang-orang mulia di awal-awal, pokoknya abad modern? Apakah suri teladan itu hanya Nabi? Ya, oke, nabi-nabi, tapi pelajari perjalanan sejarah, ada revolusi industri. Apakah kita tidak boleh menghargai seperti Thomas Jefferson, Thomas Alva Edison, orang-orang mulia untuk kesejahteraan manusia,” terangnya.

Atas ucapannya itu, ia dilaporkan ke polisi. Laporan atas nama Ratih Puspa Nusanti tersebut tertuang dalam nomor LP/7363/XI/2019/PMJ/Dit.Reskrimum, tanggal 15 November 2019. Sukmawati dilaporkan atas tuduhan penistaan agama Pasal 156a KUHP.

“Kami Korlabi mendampingi Ibu Ratih atas nama pribadi dan muslimah dengan melaporkan Sukmawati atas dugaan penghinaan kepada Nabi Muhammad dengan apa yang dikatakan oleh Sukmawati, yaitu membandingkan Soekarno dengan Nabi Muhammad,” sebut Sekjen Koordinator Bela Islam (Korlabi) Novel Bamukmin yang mendampingi pelapor.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Argo Yuwono membenarkan laporan polisi atas perempuan bernama Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri itu. “Benar. Atas kejadian tersebut korban sebagai umat islam merasa telah dirugikan,” kata Argo.

Sukmawati: Saya Tidak Membandingkan

Mendapati laporan itu, Sukmawati membantah menista dan membandingkan ayahnya dengan Nabi Muhammad SAW. Pidatonya soal Soekarno dan Nabi Muhammad disampaikan dalam konteks perjuangan kemerdekaan. Ia hanya bercerita sejarah awal nasionalisme mulai berkembang di tanah air. Tujuannya, menguji pengetahuan sejarah peserta diskusi.

“Saya kan hanya bertanya, konteksnya sama sejarah Indonesia dalam kemerdekaan, masak begitu saja jadi masalah? Saat itu, siapa yang berjuang, ya pastinya di abad ke-20 nabi kan sudah gak ada,” kata Sukmawati kepada wartawan.

Terkait perbandingan Al Quran dan Pancasila, Sukmawati beralasan, perbandingan itu bukan berasal dari dirinya. Kata dia, ini adalah informasi yang didapat ketika seseorang akan direkrut dalam kelompok radikalisme. “Bahwa saya dapat info. Bahwa ada cara merekrut calon radikalis atau teroris, ada pertanyaan begitu,” terangnya.

Sukmawati mempertanyakan dasar pelaporan dirinya. Menurutnya, laporan tidak akuntabel jika hanya bermodalkan video viral di media sosial yang sudah diedit. “Saya tidak membandingkan, dan tidak ada kata jasa. Saya hanya bertanya, siapa yang berjuang untuk kemerdekaan. Nabi yang mulia Muhammad atau Sukarno. Titik. Tapi diberitakannya, siapa lebih berjasa,” heran Sukmawati.

Bung Karno Mengakui Kehebatan Muhammad SAW

Politisi senior Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid lewat akun Twitter-nya menyampaikan keberatan atas pidato Sukmawati. Kata HNW, untungnya Bapak Bangsa & Proklamator Indonesia bukan Sukmawati, tapi ayahnya, Bung Karno.

Sebab, Soekarno disebut HNW, tokoh yang sangat mengakui dan mengagumi Nabi Agung Muhammad SAW. Malahan, Soekarno menyatakan Nabi Muhammad pemimpin paling besar, bahkan tak ada pemimpin paling besar lagi selain Nabi MUhammad SAW.

“Tokoh yang sangat mengakui Nabi Muhammad SAW, dan nyatakan ‘kita sebagai Umat Islam, harus katakan Muhammad adalah Pemimpin Besar & Terbesar, tak ada Pemimpin yang lebih besar dari Muhammad SAW’,” kicau Hidayat.

Tak jauh berbeda, Ustaz Yusuf Mansur juga menilai Sukmawati offside. Tidak tepat Sukmawati membandingkan Soekarno dengan Nabi Muhammad SAW.

“Mungkin maksudnya Ibu Sukma itu adalah, bagaimana kita juga menghargai semua yang sudah berjasa di bidang apapun di Indonesia maupun di dunia. Cuma beliau offside, kejauhan. Kan beliau juga muslimah,” kata Ustaz Yusuf.

Diingatkannya, soal beginian, mestinya Sukmawati dan seluruh pihak harus hati-hati. Jika salah ngomong, bisa jadi membangkitkan amarah umat yang merasa nabi yang mereka agungkan dan cintai dibanding-bandingkan.

“Siapa juga yang rela, siapa juga yang ridha? Cuma kan kita umat yang juga nggak boleh cepat marah, cepat emosi. Kita harus melihat ini sebagai ruang untuk memberi informasi, berbaik sangka, kemudian memberikan contoh, memberikan pengetahuan tentang nabi kita. Mudah-mudahan polemik ini jadi rahmat, jadi ilmu buat banyak orang. Apalagi saat ini bulan Maulid. Allah ampuni Ibu Sukma dan Allah ampuni kita semua juga,” ujarnya.

Sekadar mengingatkan, Sukmawati pernah dilaporkan atas kasus sejenis oleh sejumlah pihak usai membacakan puisi berjudul Ibu Indonesia dalam acara peragaan busana Anne Avantie beberapa waktu lalu. Salah satu potongan lirik puisi itu berbunyi “Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok. Lebih merdu dari alunan azan mu.”

Puisi yang dibacakan Sukmawati ini sempat memicu aksi massa bertajuk Aksi Bela Islam 64 pada April 2018 lalu. Mereka menuntut proses hukum kepada Sukmawati. Sukmawati meminta maaf sambil menangis. Mabes Polri pun akhirnya menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyelidikan (SP3) karena tidak menemukan unsur pidana dalam kasus tersebut. (FMM)

Temukan kami di Google News.