Eggi Sudjana: Problem Bangsa Ini Ekonomi, Bukan Radikalisme

eggi sudjana
Eggi Sudjana.

Inisiatifnews – Tokoh Persaudaraan Alumni 212, Eggi Sudjana menilai bahwa persoalan bangsa Indonesia sat ini bukanlah radikalisme melainkan adalah persoalan ekonomi.

“Problem bangsa kita adalah ekonomi bukan radikalisme. Ekonomi yang membuat kita impor melulu,” kata Eggi dalam sebuah diskusi di D’Hotel, Jakarta Selatan, Selasa (5/11/2019).

Bacaan Lainnya

Ia menilai ketika Presiden Joko Widodo menempatkan radikalisme menjadi narasi utama dalam menyikapi persoalan bangsa ini, maka Presiden sedang salah dalam mengambil langkah.

“Jokowi udah nggak benar menurut saya, saya tegas,” ujarnya.

Ia menyatakan akan terus memberikan kritikan kepada pemerintahan Joko Widodo dan KH Maruf. Dan ia meminta agar setiap orang yang melakukan countering terhadap dirinya agar mengedepankan nilai-nilai intelektualitas dan fakta yang ada.

“Mungkin pendukungnya Jokowi tidak terima ini, tetapi ‘bantai’ saya dengan intelektual dan fakta-fakta,” pungkasnya.

Selain itu, Eggi juga memberikan kritik kepada Presiden Joko Widodo yang tetap mempertahankan posisi menteri di bidang ekonomi yang tidak memiliki kualitas kerja maksimal.

“Kemudian mentri ekonominya hanya itu-itu aja, padahal kita lihat tidak ada kerjanya yang begitu menonjol,” paparnya.

Eggi menilai bahwa Indonesia tidak akan sejahtera ketika sumber daya alam yang dimiliki negara justru dikelola dan dikuasai oleh asing.

“Bagiamana masyarakat mendapatkan ekonomi lebih baik kalau hasil kekayaannya kita seperti Freeport, minyak, rempah-rempah dikasih ke Amerika dan negara-negara lainya, lalu apa kesejahteraan bangsa ini,” tandasnya.

Namun Eggi menyatakan jika dirinya tidak ingin menyerang personal menterinya, melainkan hanya ingin menyoroti kebijakannya saja.

“Saya tidak men-judge orangnya ya tetapi kebijakannya. Bagaimana kita lihat di periode pertamanya menjadi mentri ekonomi, bensin harga naik 10 kali dalam 1 periode ini,” pungkas Eggi.

Lebih lanjut, Eggi juga menyatakan bahwa apapun kritikan yang disampaikan kepada pemimpin harus dilakukan dengan hati-hati. Yakni berhati-hati agar bangsa Indonesia tidak terpecah-belah dan kritikan bukan untuk kepentingan pribadi melainkan murni kepentingan yang lebih besar lagi.

“Saya kira jelas kritis tetap saya jaga, mari menjaga bangsa kita ini agar tidak terpecah belah, demi kepentingan negara,” tuturnya. []

Temukan kami di Google News.