Inisiatifnews – Ekonom, Rizal Ramli menilai bahwa saat ini tax ratio dalam negeri dalam kondisi negatif. Hal ini dengan hasil rujukan grafik pendapatan pajak Indonesia dari tahun 2010-2018 belum menunjukkan posisi aman, sekalipun ada Tax Amnesty yang diberlakukan pemerintahan Jokowi-JK dengan Menterinya, Sri Mulyani Indrawati.
“Tax Ratio Indonesia periode 2010-2018, DGP (gross domestic product) kita merosot, setelah ada Tax Amnesty juga hasilnya masih merosot,” kata Rizal Ramli di kediamannya di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (12/8/2019).
Kemudian, mantan Menko Perekonomian era almarhum Presiden Gus Dur itu juga memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia juga sulit dan hanya dipridiksi akan bertahan di angka 4,5% saja untuk tahun 2019.
“Kami ingin mengatakan bahwa tahun ini ekonomi Indonesia akan makin nyungsep, pertumbuhan ekonominya paling hanya 4,5%,” ujarnya.
Artinya pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pemerintah 5,2% di tahun ini menurut Rizal tak akan tercapai. Hal ini lantaran kondisi ekonomi Makro dinilainya semakin merosot.
“Pemerintah awal tahun mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal 5,2% tapi data terakhir 5,0%. Dugaan kami anjlok terus jadi 4,5%. Kemudian indikator makro menunjukkan kecenderungan makin merosot,” jelasnya.
Selain itu, berdasarkan data yang ditampilkan oleh Rizal Ramli, pendapatan pajak saja di tahun 2015 adalah 9,20 persen, tahun 2016 adalah 8,97%, kemudian di tahun 2017 juga mengalami kemerosotan yakni 8,47% dan di tahun 2018 adalah naik 8,85%. Sempat tertolong karena ada penambahan royalti pada sektor Sumber Daya Alam (SDA) di tahun 2018 ada 11,45%.
Menurutnya, Tax Amnesty adalah langkah gagal pemerintah pusat untuk menggenjot pendapatan negara. Dan ia pun menyayangkan ketika ada wacana bahwa program pengampunan pajak itu akan diberlakukan lagi.
“Tax Amnesty gagal total tapi ini mau ada Tax Amnesty kedua, ini kan konyol,” ujarnya.
Rizal Ramli berharap agar pemerintahan di bawah Jokowi-Maruf nanti tidak menggunakan cara-cara yang sama seperti Tax Amnesty untuk berupaya memperbaiki perekonomian Indonesia.
“Ada harapan nggak sih, masak (ekonomi) nyungsep terus, apalagi Jokowi udah periode kedua. Selama kita pakai cara-cara lama untuk pecahkan masalah yang sama, jangan harap masalah selesai dan ada penyelesaian. Itu kata Albert Einsten,” tuturnya.
Lantas langkah apa yang harus diambil Jokowi di pemerintahan periode keduanya agar prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak semakin nyungsep dan cenderung berpotensi menghadapi krisis ekonomi menurut Rizal Ramli. Mantan Menko Kemaritiman Jokowi itu mengatakan Pemerintah sebaiknya berhenti mengejar pajak tinggi pengusaha kecil.
“Kita harus trigger ekonomi menengah ke bawah. Caranya, kurangi pajaknya dan tingkatkan ekonominya. Jangan malah dikejar-kejar pajaknya karena ketika nanti sampai terjadi krisis kita punya bantalan (dari ekonomi menengah ke bawah),” terang Rizal Ramli. []
