Inisiatifnews – Presiden Joko Widodo melalui akun media sosialnya mengunggah gambar kartun yang menampilkan seorang laki-laki dewasa sedang bersama tiga orang anak kecil dalam kondisi hendak menjalankan ibadah sholat.
Video grafis itu adalah salah satu cara orang nomor satu di Republik Indonesia itu menyampaikan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa kepada publik pengguna sosial media.
Dalam postingan tersebut, Presiden Jokowi juga memberikan kata-kata bijak, dimana dalam ibadah puasa sejatinya adalah momentum untuk melatih diri dalam mengendalikan hawa nafsu, sekaligus ikut bagaimana merasakan keterbatasan orang lain yang memiliki kekurangan misalnya dalam urusan finansial.
“Dari puasa dan dalam berpuasa kita berlatih untuk menahan hawa nafsu, hasrat, dan keinginan duniawi, dan turut merasakan keterbatasan orang tak berpunya,” tulis Jokowi seperti diunggah di akun instagramnya @jokowi, Minggu (5/5/2019).
Kemudian di bulan suci Ramadhan ini, Jokowi juga menyampaikan bahwa momentum saat ini adalah satu waktu yang baik untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya.
“Juga, kesempatan tak terkira untuk menimba pahala yang berlipat ganda di bulan suci,” tuturnya.
Amalan di bulan suci Ramadhan
Perlu diketahui bahwa umat Islam di seluruh dunia hari ini mulai menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1440 hijriah. Termasuk di Indonesia, awal bulan Ramadhan ditentukan per tanggal 6 Mei 2019 oleh Kementerian Agama Republik Indonesia melalui keputusan sidang Isbat.
Namun perlu diketahui oleh seluruh umat Islam, bahwa seluruh amal perbuatan kebaikan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda, bhakan sampai 700 kali lipat dibandingkan pahala ibadah di hari-hari biasa. Bahkan ada riwayat yang menjelaskan tentang besaran pahala di bulan Suci Ramadhan itu.
Yakni dari Sahabat Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151).
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramadhan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 271).
Hanya saja perlu menjadi catatan, pelipatgandaan pahama tersebut tidak hanya berlaku bagi amal yang hitungannya adalah dalam kategori ibadah saja, bahkan perbuatan maksiat pun mendapatkan kelipatgandaan serupa.
Dan momentum yang tak kalah penting di Bulan Suci Ramadhan adalah kesempatan menjalankan ibadah di malah Lailatul Qodar atau yang dikenal dengan istilah Malam Seribu Bulan.
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3). Maksudnya adalah ibadah di malam Lailatul Qadar lebih baik dari ibadah di seribu bulan lamanya.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan, “Amalan yang dilakukan di malam Lailatul Qadar lebih baik daripada amalan yang dilakukan di seribu bulan yang tidak terdapat Lailatul Qadar. Itulah yang membuat akal dan pikiran menjadi tercengang. Sungguh menakjubkan, Allah memberi karunia pada umat yang lemah bisa beribadah dengan nilai seperti itu. Amalan di malam tersebut sama dan melebihi ibadah pada seribu bulan. Lihatlah, umur manusia seakan-akan dibuat begitu lama hingga delapan puluh tahunan.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 977).
