Rektor Unmuh: NKRI Dibangun Berdasar Cinta Sesama

Istimewa

Inisiatifnews – Lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu tidak bisa dilepaskan dari tumbuhnya rasa cinta diantara sesama anak bangsa. Meski berbeda latar belakang suku, ras, agama dan warna kulit.

“Tapi karena adanya cinta terhadap keberlangsungan negara kesatuan, maka perbedaan itu tak lagi menjadi hambatan. Malah sebaliknya, karena cinta itulah kesamaan diantara sesama anak bangsa yang lebih ditonjolkan,” ujar Rektor Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Malang, Dr Fauzan, M.Pd saat membuka dialog kebangsaan bertema “Milenial Mewujudkan Indonesia Emas 2045, Selasa (9/4/3019).

Bacaan Lainnya

Dalam acara yang dimoderatori Inayah Wahid, putri bungsu Gus Dur itu, turut menjadi nara sumber adalah Prof DR Mahfud MD, Alissa Qotrunnada Wahid (Mbak Lisa), Prof DR Ainun, Syafiq Ali, S.Ag, dan Dr (hc) Alim Markus pendiri Marspion group.

Menurut Rektor Unmuh, generasi milenial mempunyai tanggungjawab moral untuk menjaga eksistensi NKRI itu atas dasar cinta kasih diantara sesama anak bangsa. Untuk menguatkan ajakannya tersebut, Fauzan menegaskan bahwa sekitar 7% mahasiswa Unmuh Malang berlatar belakang non muslim. Jika keberagaman itu bisa dijaga dengan baik, maka cita-cita besar yang disampaikannya akan bisa terwujud.

“Indonesia emas 2045 akan bisa kita wujudkan,” tegasnya.

Senada dengan Rektor, Prof Mahfud MD juga mengakui bahwa cita-cita mewujudkan Indonesia Emas hanya akan menjadi angan-angan belaka, jika generasi milenial tidak mengambil peran-peran positif.

“Jika tidak hati-hati mengawal proses kenegaraan ini, Indonesia bisa bubar seperti halnya Rusia dan Yugoslavia,” kata Mahfud.

Oleh karena itu dia meminta agar generasi milenial terus memupuk prularitas kebangsaan kita sekaligus menjaga ancaman-ancaman serius yang dapat membuyarkan cita-cita bersama menuju Indonesia emas 2045.

Diantara ancaman tersebut, kata Mahfud, adalah merebaknya gerakan intoleransi, ujaran kebencian dan informasi hoaks yang masih marak di media sosial. Bahkan dari sisi hukum, juga makin terlihat gejala disorientasi kepemimpinan sehingga menimbulkan distrust.

Jika kedua persoalan tersebut dibiarkan makin meluas, Mahfud khawatir memunculkan gejala lanjutan yakni disobidion (pembangkangan,red). Kalau sudah terjadi pembangkangan, apalagi terjadi secara massal, maka Indonesia ke depan akan mengalami disintegrasi (perpecahan,red).

[MMS]

Temukan kami di Google News.