Ridwan Kamil Imbau Jangan Ada Perselisihan Gara-gara Pilpres

Ridwan Kamil
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Inisiatifnews – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menghadiri silaturahmi akbar warga Sunda di Sumatera Utara. Dalam kunjungannya tersebut, emil menitipkan beberapa pesan kepada warga Jawa Barat di Medan dan sekitarnya.

Emil ingin warga Jabar yang tergabung dalam Paguyuban Pasundan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Yaitu warga Jabar yang tinggal di Medan, harus menghormati budaya lokal setempat.

Bacaan Lainnya

“Hiduplah seperti air, ikuti wadahnya. Di sini wadahnya lingkaran, jadilah air bentuk lingkaran sesuai wadahnya,” kata Emil saat memberi sambutan dalam acara silaturahmi akbar warga Sunda di Sumatera Utara dan pelantikan dewan pangaping serta pengurus cabang Paguyuban Pasundan di Medan International Convention Center, Kota Medan, Minggu (3/2/2019). 

Ia mengatakan, orang Jabar paling mudah diterima saat merantau ke luar provinsi di seluruh Indonesia. Untuk itu, dia ingin warga Jabar dapat menjadi penengah di tengah konflik masyarakat. 

Dalam kesempatan yang sama, Emil meminta semua warga Jabar serta masyarakat lainnya untuk saling menjaga persatuan dan kesatuan serta menghindari perselisihan. Karena mengingat pentingnya persatuan di tengah masa kampanye Pilpres 2019 ini.

“Mari jaga persatuan, kekompakan. Titip jangan ada pertengkaran gara-gara urusan Pilpres. Pesan dari saya kompak, tunjukkan orang Sunda di Sumatera Utara bisa sabilulungan (kekeluargaan dan gotong royong). Sebagai masyarakat teladan selalu menyelesaikan konflik dengan dialog pikiran, bukan dengan kontak fisik,” tuturnya. 

Pesan utama dari semua itu, dia ingin warga Jabar ini memberi manfaat untuk semua orang. Sehingga citra warga orang Sunda ini selalu dipandang positif. 

“Pesannya titip cuma satu, harus bermanfaat. Diplomasi dengan kesenian,” ujar Emil menegaskan. 

Ketua Umum Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi menuturkan, kehadiran organisasi yang dipimpinnya di tanah Sumatera Utara menjadi tanda persaudaraan dengan Jabar. 

Satu paling spesial, kata dia, masyarakat yang bergabung dengan Paguyuban Pasundan bukan hanya orang berketurunan orang Sunda semata. Tapi juga ada warga Medan dan kota lainnya di Sumatera Utara yang ikut dalam organisasinya. 

“Paguyuban Pasundan itu pertama karena faktor darah dan kultural. Siapapun yang mencintai budaya Jabar yang pernah kuliah di lembaga pendidikan Pasundan itu adalah keluarga Paguyuban Pasundan,” ucap Didi. [SA]