Din Syamsuddin Kritik Debat Capres Lebih Banyak Emosi dari Pada Mutu

din syamsuddin
Mantan Ketua Umum MUI Pusat, Muhammad Sirajuddin (Din) Syamsuddin. [foto : Istimewa]

Inisiatifnews – Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau yang karib disapa Din Syamsuddin itu memberikan kritikan terhadap debat Capres-Cawapres sejauh ini tidak mengedepankan kualitas dan substansi, malah lebih saling menunjukkan emosi. Kondisi ini justru berdampak kepada sikap para pendukung fanatik masing-masing calon yang maju di Pilpres 2019 itu.

“Pilpres dengan perdebatan capres pada kali ini kurang bermutu, kurang ber nas, terutama kepada pendukung fanatik. Banyak saya saksikan, lebih kepada emosi,” kata Din di Hotel Grand Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (26/2/2019).

Bacaan Lainnya

Apalagi pasca debat kedua yang dilakoni antara Jokowi dengan Prabowo beberapa hari yang lalu, Din melihat justru sikap para pendukung masing-masing dari mereka terkesan terlalu berlebihan.

“Tidak semua memiliki pengetahuan yang dalam tentang para Capres. Bahkan ada yang sudah memukul genderang perang, ini (artinya) sudah terjebak pada fanatiisme politik,” ujarnya.

Kemudian Din yang juga mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu memberikan pencerahan agar persaingan politik elektoral ini bisa lebih baik lagi. Yakni bagaimana masing-masing kandidat menerapkan visi dan misi kebangsaan yang bertumpu pada cita-cita para pendiri bangsa.

“Saya berkepentingan perlu menganalisis, yakni kurang ditempatkan pada visi kebangsaan, seharusnya berorientasi kepada cita-cita nasional dan kebagsaan yang telah ditegakan para pemimpin bangsa kita. Sehingga tidak perlu visi-visi baru lagi,” tuturnya.

Misalnya saja kata Din, salah satu semangat Soekarno membangun Indonesia adalah dengan menerapkan Trisakti. Hanya saja, semangat itu lebih banyak hanya berada di ruang teori sementara minim sekali realisasinya.

“Saat ini yang terjadi, kedaulatan bangsa dan negara telah runtuh. Trisakti bung Karno terlalu banyak dibicarakan, tapi tidak ada realisasinya. Kita butuh pemimpinan otentik, bukan pemimpin kosmetik,” tegas Din.

Terakhir kepada para pendukung masing-masing calon Presiden dan calon Wakil Presiden, Din meminta agar tidak terlalu fanatis tapi lebih rasionalis. Apalagi fanatisme semacam itu justru mengenyampingkan nilai-nilai persatuan bangsa Indonesia.

“Cintailan paslon sedang-sedang saja karena boleh jadi suatu waktu dia bisa membencimu. Musuhilah musuh politikmu sedang-sedang saja karena suatu waktu dia bisa menjadi orang yang kamu cintai. Kita punya pilihan, tapi kita tidak ingin persaudaraan kita luntur,” tutupnya.

[NOE]

Temukan kami di Google News.