Ganjar : Pembakar Kendaraan di Jawa Tengah Sakit Jiwa

Mahfud MD
Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Prof. Mahfud MD, Sekjen Alissa Wahid, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan tokoh lainnya menghadiri dialog Jelajah Kebangsaan sesi VI di Stasiun Solo Balapan, Rabu (20/02/2019).

Inisiatifnews – Suasana Jawa Tengah adem ayem karena rakyatnya selalu merawat harmoni dan persatuan. Namun sayang, ada yang tidak suka dan mencoba mengganggu ketentraman Jawa Tengah.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menyampaikan sambutan dalam acara dialog ‘Merawat Harmoni dan Persatuan’ yang digagas Suluh Kebangsaan, Jelajah Kebangsaan sesi VI di Stasiun Balapan, Solo, Rabu (20/2/2019).

Bacaan Lainnya

Pernyataan Ganjar ini terkait kejadian beberapa pekan ini di Jawa Tengah, khususnya Semarang. Yakni sejumlah kasus pembakaran kendaraan bermotor. Hingga kini, kepolisian masih terus menyelidiki motif dan pelaku tindak kriminal tersebut. Pihak kepolisian sudah memeriksa sejumlah saksi.

Dengan nada keras, Ganjar menyebut pelaku pembakaran sebagai orang yang tidak waras. “Mbok kalau mau bakar-bakaran jagung atau sate saja malah enak. Lha ini malah kendaraan, benar-benar sakit jiwa,” tegas Ganjar sembari mengimbau masyarakat Jawa Tengah tetap tenang dan terus menjaga lingkungannya.

Sementara itu, Ketua Suluh Kebangsaan Prof. Mahfud MD merasa prihatin makin maraknya berita-berita bohong (hoax). “Berita bohong sudah menyebar ke masyarakat bawah, dan mereka terkadang menemui kesulitan untuk mengecek,” ujarnya.

Ketua Dewan Pembina MMD Initiative ini memberi contoh produksi hoax terbaru bahwa Ahok akan menggantikan posisi KH Ma’ruf Amin, sudah meluas. “Padahal secara undang-undang tidak mungkin. Apalagi posisi wapres kan tidak bisa diisi oleh mantan narapidana,” jelas mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini.

Selain itu, Mahfud juga menyoroti masih adanya upaya-upaya memainkan isu agama untuk kepentingan politik. Bahkan ada yang mengkafir-kafirkan karena beda pilihan. “Harusnya pemilu ini disikapi seperti kita berpesta, senang-senang, saling sapa. Begitu usai berpesta ya kembali bergaul seperti biasa,” ujar Mahfud.

Dialog kebangsaan di Solo ini juga menampilkan narasumber lain seperti Kardinal Julius Darmaatmaja, Allisa Wahid, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo, KH Dian Nafi’, dan Muhammad Tafsir.

Kardinal J. Darmaatmaja mengingatkan perlu terus merawat harmoni dan persatuan. “Merawat Indonesia itu butuh semangat,” tegas J. Darmaatmaja. Ia lantas mengutip puisi pahlawan Yos Sudarso tentang pentingnya menanamkan rasa nasionalisme bagi generasi muda.

Alissa Wahid, Sekjen Suluh Kebangsaan mengimbau agar elit tidak terus menerus bertengkar dan menebar hoax. “Kenapa hoax terus merajalela, karena elit tahu itu merupakan cara efektif mencari dukungan dengan cara membangun sentimen kebencian. Sebagai masyarakat kita berhak menuntut agar pemimpin itu bernalar baik. Debat capres sudah usai, tapi sampai sekarang masih terus diperpanjang oleh para pendukungnya. Kasihan rakyat disuguhi tontonan seperti itu terus menerus,” ujarnya. (AM)

Temukan kami di Google News.