Soal Lima Pimpinan Baru KPK, Mahfud MD Ajak Publik Tidak Under Estimate

Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Prof Mohammad Mahfud MD saat konferensi pers di JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan. [foto : Inisiatifnews]

Inisiatifnews – Komisi III DPR akhirnya memilih lima pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) periode 2019-2023. Kelimanya yakni Irjen Pol Firli Bahuri sebagai Ketua KPK, dan sebagai wakil ketua ada Nawawi Pomolango, Alexander Marwata, Nurul Ghufron, serta Lili Pintauli Siregar. Firli mulus terpilih sebagai ketua  secara mufakat dari rapat pleno di DPR RI.

Proses seleksi hingga terpilihnya lima pimpinan KPK ini tak lepas dari kritikan dan kecaman. Salah satunya yang paling disorot adalah Firli. Ia banyak ditolak khalayak terutama oleh kalangan pegiat antikorupsi. Firli diduga pernah melanggar etik saat menjabat Deputi Penindakan di lembaga antirasuah ini.

Bacaan Lainnya

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof Mahfud MD meminta publik tidak under estimate. Beri kesempatan terlebih dahulu kepada kelimanya memimpin KPK.

Lima pimpinan KPK periode 2015-2019, kata Mahfud, awalnya juga diragukan publik. Tetapi, buktinya kelimanya memiliki kinerja yang baik.

“Jadi jangan under estimate atau meremehkan dulu. Pimpinan KPK sekarang ini yang dipimpin Agus Raharjo, Saut, Basaria, Alex, dan Laode itu dulu ketika dipilih, orang semua bilang jelek. KPK akan hancur di bawah orang ini. Akan tetapi ternyata bagus kan kinerjanya?,” ungkap Mahfud saat berbincang dengan wartawan di Cafe d’Tambir, Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta, Minggu (15/9/2019).

Yang membuat para pimpinan berkinerja bagus atau sebaliknya, kata Mahfud adalah lingkungan. Termasuk persepi publik. Untuk itulah, ia meminta masyarakat mendukung kelimanya memimpin komisi antirasuah. 

“Kalau masyarakatnya mendorong dia bagus, ya akan bagus. Kawal saja terus supaya tetap di jalur yang benar dalam pemberantasan korupsi,” pesannya.

Secara khusus, ia memberi penilaian kepada Firli. Ia menilai, Firli adalah pribadi yang baik.

“Saya pernah kenal dengan Firli, ketemu di suatu tempat, baik menurut saya orangnya. Jadi saya ada di satu tempat, dia (Firli) di bandara dengar bahwa saya akan pulang ke bandara, dia nunggu saya untuk ketemu sekedar silaturahim, kesan saya baik,” tutur Guru Besar Fakultas Hukum UII Yogyakarta ini.

Meski demikian, Mahfud tidak tahu menahu dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel) itu.

“Saya enggak tahu banyak, tapi menurut saya cara bergaulnya tidak norak, cukup baik. Cukup Indonesiawi. Tapi kasus-kasus lain mungkin saya tidak tahu karena saya tidak mengikuti,” ujar Mahfud.

Ia pun yakin, Firli akan taat aturan. Misalnya soal posisi yang kini masih dijabat Firli, yakni Kapolda Sumsel. Tanpa diminta publik pun, ia yakin Firli akan menanggalkan jabatannya tersebut.

“Mundur atau tidak, tidak perlu ditanyakan. Nanti kalau dilantik menjadi Ketua KPK, sudah harus keluar dari Polri. Dia tahu aturannya,” sebutnyam

Sementara pimpinan KPK terpilih lainnya, Nurul Ghufron dan Lili Pintauli Siregar, menurut Mahfud juga memiliki pribadi dan pengalaman yang baik.

“Ada yang bagus Nurul Ghufron itu bagus, akademisi yang pengalamannya di politik ada karena pernah bersama saya di Baleg DPR ketika saya di DPR, bagus itu bisa diharapkan. Pintauli juga bagus,” pungkas Mahfud. (MFM)

Temukan kami di Google News.