Walau Banyak Salah, Analis Sebut Pidato Presiden Prabowo Tunjukkan Keinginan Tampil Ramah

Analis komunikasi politik, Hendri Satrio (kanan), dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (21/08/2026). Foto: Wahyu Suryana
Analis komunikasi politik, Hendri Satrio (kanan), dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (21/08/2026). Foto: Wahyu Suryana

Analis komunikasi politik, Hendri Satrio, memberikan nilai 8 dari 10 untuk pidato kenegaraan Presiden Prabowo di Sidang Tahunan MPR RI pada 14 Agustus 2026 lalu. Ia menilai, salah satu yang menjadi indikator karena Presiden Prabowo menyadari waktu.

“Misalnya, dia lagi ngomong, terus tiba-tiba wah harus shalat Jum’at ya, artinya dia ingat manajemen waktu. Kemudian, poin kedua dia sex education dia sampaikan, tentang pacaran 10 tahun lagi itu, walaupun jadi kontroversi,” kata Hensa kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Poker di YouTube Terus Terang Media, Jumat (21/08/2026).

Ia berpendapat, Presiden Prabowo tampak pula berusaha ramah di pidatonya dengan menyebutkan nama-nama warga yang diundang hadir. Walau banyak membuat kesalahan, Hensa melihat, itu tetap bagus karena menimbulkan topik baru untuk didiskusikan.

“Mungkin itu poin bagusnya adalah inovatif. Tapi, banyak yang bagus dia sampaikan perkembangan lembaga-lembaga negara. DPD dia sampaikan, KY, MA, MK dia sampaikan satu-satu. Dia juga sampaikan BUMN ada beberapa yang untung, dia juga sampaikan program-program dia tuh, Sekolah Rakyat, MBG, Koperasi Merah Putih. Di awal-awal tuh bagus saja, tapi begitu dia impromptu, dia menyapa ingin ramah, mungkin sebagai Ayah, sebagai Bapak, dia ingin ramah, malah kejadian jadi aneh-aneh,” ujar Hensa.

Namun, ia mengaku kasihan kepada salah satu warga yang disebutkan, Susanah, karena akhirnya malah menimbulkan kontroversi. Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyebut ibu asal Bogor itu merupakan pengupas bawang dengan honor Rp 700.000 per kilogram.

Sejak awal, publik langsung merasa curiga karena merasa tidak mungkin honor dari pengupas bawang jauh melebihi harga bawang itu sendiri. Belakangan, publik turut mempertanyakan sekaligus mengetahui kalau Susanah bukan merupakan pengupas bawang.

“Paling kasihan Ibu Susanah, Ibu Susanah tuh sebetulnya dia tuh kerjanya mengupas bawang atau menjahit baju sih sebetulnya, menjahit kain perca. Itu kan hal-hal begitu kan Presiden mesti tahu ya, apa yang disampaikan tuh dia mesti tahu. Jadi, gue pikir kontroversinya cuma tentang Rp 700 ribu per kilo saja. Tapi, ternyata ada kontroversi lain, yaitu kerjaan aslinya, Ibu Susanah tuh apa begitu?” kata Hensa.

Namun, ia mengingatkan, Presiden Prabowo memiliki kebiasaan impromptu yang pada dasarnya dikarenakan pribadi yang cukup humoris. Karenanya, Hensa merasa, Presiden Prabowo sebenarnya ingin menunjukkan keakraban dengan warga yang hadir di tempat.

Di situ, Hensa meyakini, kesalahan demi kesalahan terjadi yang dikarenakan data yang tidak tepat disampaikan tim Presiden Prabowo. Karenanya, ia menyarankan, Presiden Prabowo sendiri perlu melakukan investigasi soal kesalahan-kesalahan itu.

“Perihal selip-selip datanya itu sih, ya menurut gue itu Prabowo mesti investigasi. Bukan tentang Rp 700 ribu sama 700 kilonya ya, aslinya Ibu Susanah kerjaannya apa, itu poin pentingnya ya. Kalau salah ngomong Rp 700 ribu sih gue ngerti ya, tapi pengupas bawang ternyata penjahit kain perca kan jauh ya, terus dia kerja di SPPG,” ujar Hensa.

Meski begitu, Hensa mematahkan pembelaan jubir-jubir pemerintah yang meminta masyarakat tidak fokus ke kesalahan data atau kesalahan ucap, tapi fokus ke substansinya. Justru, ia menilai, ini dibahas karena publik paham substansinya.

Ia menyarankan, pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pidato Presiden Prabowo seharusnya meminta maaf saja mengakui kesalahan-kesalahan data yang disampaikan. Jangan malah menyampaikan pembelaan yang membuat kesalahan yang ada tidak selesai.

“Jadi, mungkin, jangan-jangan ada loh pengupas bawang yang asli, yang Rp 700 ribu tapi ya, yang Rp 700 ribu per kilogram, bisa jadi ada. Kalau misalnya lu berpikir, berarti jangan-jangan ada pengupas bawang yang asli, Rp 700 ribu per kilogram,” kata Hensa. (WS05)

Temukan kami di Google News.