Yakin Sutrimo ART Febrie Adriansyah Terbunuh, Prof. Kikiek: Penyidik Paling Bodoh Pun Tahu

Guru Besar Universitas Bhayangkara, Prof Hermawan Sulistyo, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin (03/08/2026). Foto: Wahyu Suryana
Guru Besar Universitas Bhayangkara, Prof Hermawan Sulistyo, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin (03/08/2026). Foto: Wahyu Suryana

Kematian Sutrimo, asisten rumah tangga mantan Jampidsus, Febrie Adriansyah, masih menjadi tanda tanya. Guru Besar Universitas Bhayangkara, Hermawan Sulistyo atau akrab disapa Prof. Kikiek meyakini, Sutrimo meninggal dunia karena terbunuh.

“Kalau pada proses investigasi penggeledahan segala macam, semakin lama, semakin terbuka peluang untuk menghilangkan jejak. Kalau kita kaitkan dengan penjaga rumah yang saya yakinkan terbunuh, itu penyidik yang paling bodoh pun tahu tidak mungkin mati wajar seperti itu,” kata Kikiek kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin (03/08/2026).

Ia mengatakan, Sutrimo pasti tahu banyak dan pihak-pihak terkait memahami sangat sulit menghilangkan jejak kejahatan jika dia dibiarkan hidup. Apalagi, Kikiek mengingatkan, dari proses ditemukan mayatnya saja sudah menimbulkan kecurigaan.

“Dia dari rumah merasa sakit, lalu ke klinik, mati di depan klinik, ini saja sudah aneh. Kenapa? Kalau sudden death, mati mendadak, porsi terbesarnya pasti karena jantung, ini orang baru 42 umurnya, tidak ada riwayat jantung, tidak ada riwayat penyakit kronis lain sebelumnya. Sehingga, salah satu kemungkinan diracun, kalau diracun ada dua jenis yang biasa dipakai, arsenikum dan sianida,” ujar Kikiek.

Celakanya, ia menjelaskan, kedua jenis racun itu memiliki masa hidup yang pendek, masih bisa terdeteksi di bawah 4 jam. Namun, jika selang waktu sudah 1-2 hari tersisa sedikit residu yang bisa ditelusuri untuk mencari arsenikum atau sianida.

Pasalnya, Kikiek menerangkan, keduanya ketika masuk ke tubuh menguap menjadi gas, sehingga sulit ditelusuri. Ia berpendapat, jika nantinya jaksa penuntut umum coba mengaitkan, sangat sulit membuktikan ini diracun karena tidak ada bukti forensik.

“Berarti harus dicari kaitan dengan bukti jejak forensik yang lain. Misalnya, pada saat dia diracun belum mati, dicekek, diikat, dicekek, atau apapun, itu masih bisa. Sebulan pun masih bisa dicari, atau ditembak atau fisik yang lain. Tapi, kalau racun, apakah ini desain, kalau desain itu bagian yang sangat penting untuk hindari kasus TPPU karena ini saksi paling penting, saksi kunci nomor satu,” kata Kikiek.

Terkait seluruh peristiwa pencucian uang itu, ia mengingatkan, sebuah brankas itu sangat berat dan tidak mungkin dibawa begitu saja dari luar ke dalam tanpa penjaga rumah tahu. Namun, tentang ini Kikiek mengaku tidak ingin melangkahi penyidik.

Kikiek khawatir, ketika ini sudah dibicarakan nanti pelaku-pelaku terkait mudah mencari alibi-alibi lain. Kikiek mengapresiasi, masih ada tokoh-tokoh seperti pakar hukum tata negara, Mahfud MD, yang terus membicarakan dan mendorong kasus ini.

“Karena Pak Mahfud ini terus saja ngubur ketika berita sudah turun kemarin itu, selama seminggu kan sudah turun berita, saya tunggu karena kalau tidak kita uber terus, lepas ini kawan ini, pede banget masih seperti pejabat tinggi,” ujar Kikiek.

Pada kesempatan itu, Mahfud MD turut menyampaikan keheranan atas penggeledehan rumah Febrie Adriansyah yang sempat dijaga banyak tentara bersenjata lengkap. Namun, ketika sudah digeledah yang ditemukan dan dibawa hanya dokumen-dokumen.

Padahal, ia menambahkan, rumah itu sebelumnya tidak bisa dimasuki karena secara tiba-tiba dijaga ketat oleh tentara. Mahfud mempertanyakan, kalau hanya dokumen-dokumen yang ada di rumah itu, untuk apa sempat dijaga tentara begitu banyak.

“Sehingga, mungkin ada sesuatu yang disembunyikan atau masih tersembunyi sekarang,” kata Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.