Mahfud MD Banyak Cerita Saat Turun Jabatan dan Diam Saja Saat Menjabat, Benarkah?

(tangkapan layar) Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, saat menjadi tamu di YouTube Leon Hartono, Rabu (29/07/2026). Foto: Wahyu Suryana
(tangkapan layar) Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, saat menjadi tamu di YouTube Leon Hartono, Rabu (29/07/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, mendapat pertanyaan-pertanyaan unik saat jadi tamu podcast The Overpost di YouTube Leon Hartono. Salah satunya dari @_cuplis_s yang menyebut Mahfud MD banyak cerita usai menjabat dan banyak diam saat menjabat.

“Pasti yang bertanya ini adalah generasi yang baru mengikuti perkembangan politik dan hukum, pasti tidak mengerti waktu saya menjabat tuh melakukan apa. Saya cerita, waktu saya Ketua MK saya babat itu permainan korupsi saling mengkriminalisasi yang dilakukan polisi, kejaksaan, pengacara, LPSK itu bekerja sama untuk menghukum orang yang tidak salah, saya tabrak waktu itu,” kata Mahfud, Rabu (29/07/2026).

Itulah kasus Cicak vs Buaya saat Mahfud sebagai Ketua MK di sidang memutar rekaman rencana kriminalisasi pimpinan KPK, Bibit Samad Rianto-Candra Hamzah. Dampaknya, puluhan ribu rakyat turun ke Bundaran HI menjemput Bibit-Candra dari Mabes Polri.

“Saya lakukan itu ketika orang sudah putus asa bahwa Bibit-Candra dikriminalisasi dan akan diadili, ketika dia bilang tidak pernah terima orang itu dan saya tidak pernah hadir di situ oleh polisi nanti dijawab di pengadilan. Padahal, buktinya tak ada, saya setel, itu yang bikin heboh, itu waktu MK. Saya juga berlakukan, misal penggunaan KTP dan paspor untuk pemilu itu saya, sebelum itu tidak bisa rakyat,” ujar Mahfud.

Waktu itu, ia mengingatkan, ada tiga pasangan Megawati-Prabowo, JK-Wiranto, dan SBY-Boediono. Sepekan sebelum Pilpres masyarakat ricuh, sampai 2 pasangan di luar petahana mengadu ke PP Muhammadiyah karena banyak pendukung tidak terdaftar DPT.

Untungnya, ada orang kreatif bernama Refly Harun mengajukan permintaan agar orang tidak harus masuk DPT untuk bisa mencoblos. Sebelum Pilpres yang dijadwalkan pada Minggu, pada Kamis permintaan itu disidang dan Mahfud memutus menerima gugatan itu.

“Sore jam 4 diputus boleh pakai paspor, boleh pakai KPT, aman, itu yang kemudian dipakai. Saya juga membatalkan orang (bermasalah) terpilih Bupati, Gubernur, ulang pemilihan, itu mulai zaman saya. Nah, kalau anak-anak Gen Z dan anak yang sekarang itu mungkin tidak ngerti itu, mungkin mengerti saya di zaman Menkopolhukam. Tapi, di zaman Menkopolhukam saya membongkar kasus Sambo habis-habisan, membongkar uang Rp 349 triliun (Kemenkeu), saya juga yang mengembalikan uang pengemplang BLBI,” kata Mahfud.

Maka itu, ia menekankan, ketika menjabat dirinya selalu berusaha mengerjakan semua yang bisa dikerjakan sesuai kewenangan yang dimiliki. Pada kesempatan itu, Mahfud turut menjawab pertanyaan soal Indonesia tidak menjadi baik usai Mahfud menjawab.

“Bukan hanya saya kalau gitu, Anda juga bilang gitu pada Bung Karno. Apakah sesudah Bung Karno jadi Presiden, Indonesia baik? Tidak. Tapi, orang tetap menganggap Bung Karno tuh orang baik, karena dia dirinya sendiri dan ketegasannya sesuai kemampuan. Anda, misalnya sebagai ekonom, pekerja bisnis, tahu orang bernama Marie Muhammad, dikenal Mr. Clean, tidak mau menyentuh uang, tapi dengan adanya Marie korupsi di Kementerian Keuangan hilang? Tidak. Tapi, orang tetap menganggap Marie itu bersih,” ujar Mahfud.

Bagi Mahfud, jika ingin membuktikan diri bersih, kita hanya cukup bekerja sungguh-sungguh, menghantam sebatas kemampuan yang dimiliki. Pun selama puluhan tahun ada Menkopolhukam, tidak pernah ada yang bongkar kasus seperti saat dirinya menjabat.

“Dulu koar-koar juga, kalau Anda buka berita-berita saat itu di TV, Metro TV, Kompas, kan saya perang terus, koar-koar juga. Cuma, dulu orang mungkin tidak nonton TV saja generasi muda itu, kalau itu Anda buka saja berita dan sekarang sudah banyak di YouTube kan. Saya tidak punya YouTube sendiri waktu itu, saya kan baru sekarang karena banyak diundang, daripada saya datang terus ke mana-mana,” kata Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.