Mahfud MD: Bukan Hanya yang Kritis, Pengamat yang Bela Habis Pemerintah dan Asal Bicara Juga Inflasi

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (14/04/2026). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (14/04/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, merespons komentar Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, yang menyebut Indonesia sedang mengalami fenomena inflasi pengamat. Yang mana, disebut mengaku pengamat dan memberi komentar tanpa basis data akurat.

“Mungkin saja ya, karena sekarang banyak sekali pengamat-pengamat muncul, peneliti-peneliti muncul, tapi yang dikatakan inflasi pengamat itu kadang-kadang bukan hanya yang kritis kepada pemerintah, pengamat-pengamat yang mendukung habis-habisan yang juga merupakan inflasi juga banyak, asal ngomong gitu,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (14/04/2026).

Ia merasa, itu sama dengan ungkapan yang banyak pula disuarakan belakangan soal inflasi pejabat dan inflasi jabatan. Mahfud menyarankan, jika benar ada inflasi pengamat yang tidak punya data, tinggal dicari pengamat yang punya data kredibel.

“Pemerintah itu harus memperhatikan hal-hal seperti itu, kalau memang pengamatnya banyak yang tidak punya data, cari yang punya data yang kredibel, kan banyak. Kita cari ini pengamat siapa yang selama ini dianggap kredibel, diambil aja pendapatnya seperti apa, lalu itu saja dijadikan dasar kalau mau memperbaiki,” ujar Mahfud.

Mahfud melihat, belakangan bukan hanya pengamat-pengamat yang kritis ke pemerintah, tapi pengamat-pengamat yang tiba-tiba muncul membela pemerintah tidak kalah banyak. Mereka tiba-tiba muncul, lalu mendukung habis-habisan tanpa ada data yang kredibel.

Fenomena ini sudah beberapa kali Mahfud sampaikan sebagai intelektual tukang, yang membuat penelitian-penelitian yang sebenarnya dibayar atas kepentingan politik. Ia melihat, itu tidak masalah karena rakyat sebenarnya memiliki public common sense.

“Banyak orang tiba-tiba mendukung ini, mendukung ini, itu intelektual tukang, sudah kita pernah bicara di sini. Sekarang, banyak intelektual tukang membuat penelitian, pengamatan, karena dibayar atau karena kedengkian politik, itu banyak. Tapi, ada public common sense, public common sense yang bisa dilihat dari pengamat mana yang punya kredibilitas dan sebagainya, itu kan banyak juga. Kalau ingin baik kan tidak usah menghitung jumlah pengamatnya, lihat substansinya apa,” kata Mahfud.

Pada kesempatan itu, Mahfud turut membagikan pengalamannya sebagai Menkopolhukam periode 2019-2024 dalam menghadapi kritik. Kala itu, Mahfud malah kerap mengundang diskusi pengamat-pengamat yang kerap tampil keras seperti Rocky Gerung dan lain-lain.

Bagi Mahfud, masyarakat sipil memang harus banyak berbicara supaya pejabat-pejabat tahu apa yang perlu diperbaiki di mata publik. Bahkan, Mahfud memiliki agenda rutin mengundang LSM-LSM ke kantornya untuk diskusi membahas persoalan-persoalan terkini.

“Karena kalau Anda diam saja, saya tidak bisa kerja dengan bagus, tidak bisa kerja secara bagus, hanya menikmati saja, dan berdebat dengan data. Saya bisa membantah Anda bisa membantah, kalau Anda keras, saya bisa keras, kan tidak apa-apa, hidup kan. LSM itu punya tempat untuk berteriak tanpa hilang di udara, tapi masuk ke tempat yang di pemerintah. Biasanya, kalau sudah diberitahu gitu, mengerti juga. Itu kalau mau memerintah dengan benar dan enak, di negara demokrasi harus begitu,” ujar Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.