Usman Hamid: Serangan Air Keras Terencana, Bukan Kriminal Biasa!

Amnesty International Indonesia
Direktur eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid. [foto : Inisiatifnews]

Kasus teror penyiraman air keras terhadap aktivis HAM dari KontraS Andrie Yunus memicu kekhawatiran publik. Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai serangan tersebut bukan tindak kriminal biasa, melainkan berpotensi sebagai aksi terencana yang berkaitan dengan situasi politik nasional.

Usman menegaskan, pola serangan terhadap Andri memiliki kemiripan dengan kasus kekerasan terhadap aktivis sebelumnya, termasuk yang menimpa Novel Baswedan. Ia menyebut, kejadian ini menunjukkan ruang yang memungkinkan kekerasan terhadap suara kritis kembali terjadi.

Bacaan Lainnya

“Ini bukan peristiwa spontan. Ada perencanaan, ada pengintaian, bahkan kemungkinan melibatkan kemampuan operasional tertentu,” tegas Usman dalam keterangannya, Jumat (10/4/2026).

Menurutnya, indikasi tersebut terlihat dari fakta bahwa pelaku tidak mengambil barang korban, melainkan langsung menyerang dan melarikan diri. Bahkan, polisi mengungkap korban telah dibuntuti sebelum kejadian.

Usman juga menyoroti meningkatnya narasi negatif terhadap aktivis, akademisi, dan pihak kritis yang kerap dilabeli sebagai “antek asing” atau tidak patriotik.

Dia mengaitkan hal ini dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menyebut kritik sebagai sesuatu yang perlu “ditertibkan”.

“Kalau kritik dianggap ancaman, maka ruang demokrasi menyempit. Ini berbahaya,” ujarnya.

Usman menilai, kecil kemungkinan serangan tersebut dilatarbelakangi motif pribadi. Ia justru menduga adanya operasi yang sistematis.

“Ini butuh keberanian, perencanaan, dan kemungkinan akses pada kemampuan intelijen. Tidak mungkin sekadar dendam pribadi,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam banyak kasus kekerasan terhadap aktivis, pelaku lapangan sering kali bukan aktor utama.

Usman menekankan bahwa keberhasilan pengungkapan kasus ini bukan hanya soal menangkap pelaku lapangan, tetapi juga mengungkap aktor intelektual di baliknya.

Dia mengingatkan kegagalan pengungkapan kasus pembunuhan Munir Said Thalib yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap.

“Kalau hanya pelaku lapangan yang dihukum, kejahatan seperti ini akan terus berulang,” katanya.

Kasus ini juga mendapat perhatian global. Sejumlah pihak, termasuk pejabat HAM PBB, telah mengecam serangan tersebut dan mendesak pemerintah Indonesia untuk melakukan investigasi menyeluruh. Di tengah situasi ini, Usman menyerukan agar masyarakat sipil tidak tunduk pada rasa takut.

“Kebebasan itu seperti air. Dibendung sekuat apa pun, dia akan mencari jalan,” ujarnya.

Dia mengajak seluruh elemen aktivis, mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat umum untuk bersolidaritas dan mengawal kasus ini hingga tuntas.

Temukan kami di Google News.