Psikolog: Istri Perlu Dukungan agar Waras Jalani Peran

(ilustrasi) Tangkapan layar adegan seorang istri sedang mencuci piring yang diperankan aktor Kate Winslet dalam film Revolutionary Road. Foto: Wahyu Suryana
(ilustrasi) Tangkapan layar adegan seorang istri sedang mencuci piring yang diperankan aktor Kate Winslet dalam film Revolutionary Road. Foto: Wahyu Suryana

Psikolog klinis dari Universitas Indonesia (UI), Nirmala Ika menilai, semua orang membutuhkan dukungan. Termasuk, seorang istri yang perlu dukungan agar tetap waras menjalani peran sebagai ibu rumah tangga.

“Semua orang, termasuk kita, itu butuh dukungan. Dukungan yang baik itu, setidaknya kita bisa sekadar bercerita saya, ada orang yang bisa mendengarkan bahwa kita sedang pusing,” kata Nirmala, dikutip Selasa (09/09/2025).

Nirmala menyebut, dalam menjalankan peran sebagai seorang ibu, wanita sering diberi beban ganda dan kini banyak peran yang semakin tersorot. Misal, harus mengurus utang atau memikirkan masalah-masalah finansial.

Maka itu, anggota keluarga harus jadi pihak terdepan yang kehadirannya dapat dirasakan oleh seorang ibu. Menurut Nirmala, bentuk dukungan yang diberikan tidak melulu harus berupa uang ataupun wujud materi lainnya.

Bisa mendengarkan curahan hati tanpa melulu menghakimi, membandingkan nasib dan kondisi. Itu akan sangat membantu dalam menjaga kestabilan mental karena perasaan dapat tervalidasi dan tersalurkan dengan baik.

Menurut Nirmala, ada hal-hal yang tidak patut dikomentari yakni pola asuh yang diterapkan oleh istri, kondisi rumah yang berantakan atau caranya menjalani hidup. Tidak mengomentari juga jadi bentuk dukungan.

“Misal, istri sedang sibuk cari tambahan, berarti rumah akan berantakan. Ya sudah biarkan saja, kalau kita tidak bantu, biarkan saja bukan malah mengomentari, itu akan jadi beban baru untuk istri,” ujar Nirmala.

Jika ada istri yang sedang merintis usaha online dari rumah, dalam beberapa kasus ada baiknya keluarga tidak menganggap ibu sibuk bermain ponsel. Sebab, kini banyak pekerjaan dapat diakses lewat e-commerce.

Anggota keluarga disarankan tidak membandingkan nasib seperti kesulitan dalam mengasuh anak. Atau, malah menekan istri dengan memberikan pola asuh yang dirasa tepat untuk digunakan pada anak-anak dan keluarganya.

“Dengarkan dulu baru pelan-pelan diberi tahu, kita tidak tahu apa yang sedang diperjuangkan. Bisa saja istri benar-benar kelabakan. Kadang yang membuat istri kesepian dan frustasi itu seperti dipentok kiri-kanan, mau cerita tidak ada yang bisa memahami, sementara kepala sedang pusing, mau cari solusi bingung,” kata Nirmala.

Soal rasa kesepian yang hadir pada istri saat menjalankan tugas memang dapat terjadi. Namun, dalam beberapa kasus perasaan itu dipengaruhi oleh kondisi dalam rumah tangga yang masih membutuhkan penyesuaian.

Nirmala menambahkan, faktor lain yang dapat mempengaruhi yakni berkurangnya komunikasi dengan teman atau keluarga untuk bercerita. Serta, adanya anggapan bahwa harkat dan martabat keluarga harus dijaga.

“Seromantis-romantisnya kita sama suami, pasti masih ada unek-uneknya kan. Makanya, kadang beberapa jadi muncul kesepian,” kata Nirmala. (Antara/WS05)

Temukan kami di Google News.