Mahfud MD: Tuhan Pasti Turun Tangan kalau Anda tidak Bisa Diingatkan Sesama Manusia

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (03/11/2026). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (03/11/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pidato pakar hukum tata negara, Mahfud MD, di Sespim Lemdiklat Polri tahun lalu soal pentingnya kejujuran dalam kepemimpinan kembali mengemuka. Terlebih, usai publik digemparkan kasus penyadapan yang dilakukan mantan Kapolri dan kelompoknya.

“Itu pidato saya di Sespim Polri, Anda akan memimpin, jangan kira ini yang sekarang berkuasa menyingkirkan Anda ke tempat, kan banyak yang dibuang yang pintar-pintar, bahkan ada orang di situ tiba-tiba oleh Kapolri disuruh ikut Sespim padahal tidak daftar, tidak ikut tes, mulai di tengah jalan, sesudah itu tidak sampai akhir lagi, lalu harus lulus, lalu diberi jabatan. Saya bilang, masa begitu caranya Polri?” kata Mahfud kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (03/11/2026).

Mahfud mengungkapkan, banyak dari mereka datang menyampaikan kalau mereka kumpulan yang terbuang karena tidak setuju dengan cara-cara yang kurang bagus dilakukan pimpinan. Karenanya, Mahfud menyampaikan pidato tentang ketangguhan hati tersebut.

“Ya sudah bersabar, terus saya pidato begitu, bahwa suatu saat orang yang berkuasa ingat, waktu akan berubah. Di tempat lain saya kan sering katakan, kalau Anda tidak kuat menghadapi kekuatan karena dia punya kekuasaan, punya segala fasilitas, ingat bahwa alam akan membawa, dia akan jatuh sendiri, akan tiba saatnya dia terkucil. Sekarang, yang terjadi hari ini Pak Listyo sekarang mengalami yang saya pidatokan di depan orang-orang Polri yang merasa dibuang di situ,” ujar Mahfud.

Begitu pun, lanjut Mahfud, ketika dirinya mengomentari putusan Mahkamah Agung (MA) soal syarat calon kepala daerah berumur 35 tahun saat mendaftar. Lalu, aturan itu diubah MA demi bisa meloloskan seorang Kaesang Pangarep yang ingin maju di Pilkada.

Saat itu, Mahfud mengingatkan, masyarakat dari berbagai kalangan bergejolak, marah, mendengungkan Garuda Biru, bahkan turun ke jalan melakukan demonstrasi. Akhirnya, cara-cara kotor itu digagalkan putusan yang dikeluarkan Mahkamah Konstitusi (MK).

“Saya kan bilang, entah siapa kamu, kita sudah mengingatkan, Anda nanti akan ketemu batunya, tidak lama lagi. Sesudah itu, ke luar putusan MK, ke luar putusan MK yang menyatakan syarat umur tidak bisa diubah, ini bertentangan dengan UU,” kata Mahfud.

Padahal, ia menekankan, sehari sesudah putusan itu DPR sudah bersidang mau memutus tanpa RUU pembahasan disampaikan ke publik. Kemarahan rakyat membuat gelombang aksi demonstrasi tidak terbendung lagi, terjadi hampir di seluruh kota besar Indonesia.

Desakan besar yang disampaikan rakyat pada akhirnya membuat DPR batal meloloskan perubahan UU tentang syarat calon kepala daerah tersebut. Menurut Mahfud, itu merupakan bukti nyata turun tangannya Tuhan ketika manusia sudah berlebihan.

“Saya bilang, rasain, kan saya sudah bilang kalau Anda tidak tahu malu, Tuhan yang akan menurunkan kamu. Itu yang terjadi saat itu, terjadi juga sekarang dan akan terjadi pada siapapun yang sekarang ini sewenang-wenang,” ujar Mahfud.

Mahfud meyakini, alam pada saatnya memang memiliki cara-cara tersendiri dalam mengingatkan sesuatu yang sudah keterlaluan. Ia menambahkan, itu merupakan salah satu keunggulan budaya Indonesia dan sebenarnya sudah diketahui umat beragama.

Bahwa, lanjut Mahfud, ketika manusia sudah berlebihan, Tuhan pasti turun tangan. Ketika ada manusia-manusia lain yang sudah berjuang dan sudah mengingatkan malah diejek, sudah pasti pada akhirnya Tuhan yang turun tangan memberikan teguran.

“Sama, Tuhan turun tangan ketika peristiwa Garuda Biru, ketika Mahkamah Agung buat keputusan sesuka-sukanya yang jelas-jelas bertentangan dengan Undang-Undang. Sama, sekarang ini masalah ijazah dan sebagainya. Oleh sebab itu, kalau memimpin itu harus satu kejujuran, lalu sadar pada kearifan lokal. Karena Indonesia negara Pancasila yang berketuhanan yang maha esa, ingat bahwa Tuhan itu bisa turun tangan sewaktu-waktu kalau Anda tidak bisa diingatkan oleh sesama manusia,” kata Mahfud. (WS05)